3 Contoh Proposal Penelitian Kualitatif



Contoh Proposal Penelitian Kualitatif

Dalam membahasa suatu penelitian diperlukan sistematika pembahasan yang bertujuan untuk memudahkan penelitian, langkah – langkah pembahasan sebagai berikut:


  1. BAB I          :    Yaitu pendahuluan, pada bab ini terdiri atas enam sub bab antar lain  latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep, dan sistematika pembahasan.
  2. BAB II        :    Yaitu kajian pembahasan,pada bab ini terdiri dari dua sub bab, sub bab pertama yaitu pembahasan teori dan sub bab kedua yakni hasil penelitian yang relevan.
  3. BAB III       :    Yaitu metode penelitian pada bab ini terdiri dari enam sub bab yaitu pendekatan dan jenis penelitian, jenis dan sumber data, tahap – tahap penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik keabsahan data.
  4. BAB IV       :    Yaitu penyajian data, yang terdiri dari dua sub bab yakni yang pertama deskripsi umum obyek penelitian dan sub bab kedua deskripsi hasil penelitian.
  5. BAB V        :    Yaitu Analisis data dari dua sub bab, yang pertama sub bab yang mengupas tentang temuan dan sub bab kedua berisi tentang konfirmasi temuan dengan teori.
  6. BAB VI       :    Yaitu penutup yang terdiri dari kesimpulan yang ditutup dengan saran.



Proposal Penelitian Kualitatif


CONTOH PERTAMA Proposal Penelitian Kualitatif


BAB I

PENDAHULUAN


A.  Latar Belakang Masalah

Di dunia ini sudah sangat sering kita menjumpai seorang laki-laki yang berpenampilan seperti seorang perempuan, Secara fisik mereka adalah laki-laki normal, memiliki kelamin yang normal, namun mereka merasa dirinya perempuan, dan berpenampilan tidak ubahnya seperti kaum perempuan lainnya (Koeswinarno, 2004).

Menurut data Direktorat Jenderal Administrasi dan Kependudukan Departemen Dalam Negeri, jumlah waria di Indonesia tahun 2005 lalu, mencapai 400.000 jiwa. Jumlah ini masih berupa fenomena gunung es, karena masih banyak waria yang belum masuk dalam hitungan, dan disinyalir angka ini akan terus bertambah setiap tahunnya (Sujatmiko dalam Tempointeraktif, 2005). Sebagai individu maupun mahluk sosial, waria berusaha untuk mendapat bagian dalam berbagai ruang sosial (Koeswinarno, 2004).

Pembentukan “waria” tidak terjadi begitu saja, tetapi merupakan proses yang cukup panjang. Munculnya fenomena kewariaan tidak lepas dari kebiasaan-kebiasaan pada masa anak-anak ketika mereka dibesarkan di dalam keluarga, yang kemudian mendapat penegasan pada masa remaja, yang menjadi penyumbang terciptanya waria.

Tidak satu pun waria yang “menjadi waria” karena proses mendadak (Nadia, 2005). Hidup sebagai waria adalah hasil akhir dari akumulasi masalah-masalah yang dihadapi semasa proses “menjadi waria”, yang berlangsung dari masa anak-anak hingga ia mencapai dewasa (Koeswinarno, 2004).

Berbagai cara mereka lalui untuk mendapat pengakuan atas keberadaan mereka, diantaranya adalah munculnya penyelenggaraan kontes Miss Waria, baik di tingkat daerah maupun nasional dan munculnya berbagai figur waria ke permukaan, baik melalui keahlian dan kecerdasan mereka.

Munculnya berbagai figur waria ke permukaan merupakan langkah awal usaha untuk diterima di masyarakat. Baik melalui keahlian, kecerdasan dan lain sebagainya. Sebut saja Merlyn Sopjan, seorang penulis buku ”Jangan Lihat Kelaminku”.

Waria lulusan Institut Teknologi Nasional Malang ini, pernah mencalonkan diri sebagai anggota legislatif Kota Malang mewakili Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia pada tahun 2003. Waria cantik kelahiran Kediri ini bahkan dianugerahi gelar Doktor HC dari Northern California Global University Amerika karena keterlibatannya sebagai aktivis sosial HIV/AIDS. Ketua Ikatan Waria Malang ini pernah menyandang gelar Ratu Waria Indonesia 1995 (Suara Merdeka dalam STUDIA, 2006).

Megie Megawatie, adalah waria yang berjuang keras agar kaumnya tidak terpinggirkan, yaitu melalui kontes waria. Selain itu, ada Shunniyah R.H, waria berkerudung, yang menulis buku”Jangan Lepas Jilbabku.” Dia adalah alumni Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, jurusan sosial politik dengan predikat Cum Laude, yang menyelesaikan bangku kuliah dalam waktu hanya 3 tahun 40 hari (Muslichan, Wiramada, & Galih dalam Indosiar ”Hitam Putih”, 2006). Namun, sampai saat ini, waria masih mendapat perlakuan yang negatif dari berbagai pihak. Hal ini terjadi karena sebagian besar masyarakat memiliki pemahaman atau konsep yang salah mengenai kaum minoritas ini (Yash, 2003).

Dalam masyarakat, sebagian besar waria dikenal keberadaannya karena mereka kerap beraksi menghentikan kendaraan yang melintas di sejumlah pinggir jalan Jakarta, seperti di kawasan Menteng Jakarta Pusat yang mereka sebut ”teli” atau ”taman lawang”, kawasan Jalan Brawijaya Jakarta Selatan, serta ”kawasan boker”, Jalan Raya Bogor. Mereka-mereka inilah sebagai penjaja kenikmatan untuk mengumpulkan rupiah (Muslichan, Wiramada, & Galih dalam Indosiar ”Hitam Putih”, 2006).

Konstruksi sosial masyarakat selama ini terbiasa melihat kehidupan waria yang selalu identik dengan dunia pelacuran atau prostitusi. Pandangan ini secara tidak langsung akan melahirkan pengasingan sosial dan penolakan terhadap keberadaan waria (Nadia, 2005). Begitu juga dari segi religi, secara umum agama-agama besar yang ada di Indonesia menolak keberadaan mereka (STUDIA, 2006).

Waria Yani suyanto kelahiran 1971 dan waria yang bernama Viru devana berusia 34 tahun yang merupakan salah satu anggota IWAMA (Ikatan Waria Malang) yang ingin menikah. Yang mengejutkan, Viru tak menampik bahwa menjadi waria memang merupakan sebuah bentuk anomali karena waria memiliki fisik pria namun berperilaku seperti wanita. “kalau waria sendiri memang kita sebagai waria adalah laki-laki.

Kadang mereka (para waria) beranggapan bahwa hati mereka adalah perempuan” ungkap Viru. Meski begitu, Viru tak mau menyebutkan waria sebagai hal yang “tidak normal” atau dilaknat secara agama.

Hal ini karena Viru percaya bahwa waria bisa disembuhkan dan bisa menjadi laki-laki. Ada  beberapa faktor yang bisa mempengaruhi waria untuk kembali normal menjadi pria antara lain adalah faktor niat, hidayah, dukungan orang disekitar, serta operasi plastik. “kalau waria tidak melakukan perubahan pada tubuh mereka, sangat mudah untuk kembali normal.

Namun kalau mereka sudah operasi, sudah macem-macem, suntik botox, dan lainnya, mereka sudah merasa seperti wanita dan ingin memuaskan pria, itu sangat sulit”, tutur pria yang telah menjadi waria selama 13 tahun ini. Ketika ditanya mengenai niatnya untuk kembali normal menjadi pria, Viru menjawab dengan tegas bahwa dia memiliki perasaan untuk kembali normal.

Namun untuk saat ini, dia masih membutuhkan waktu untuk berproses. “saya sendiri pribadi untuk saat ini masih butuh proses. Tapi kalau saya sendiri, saya yakin bisa. Saya memiliki niat untuk kembali ke normal, untuk menikah. Suatu saat, kalau Allah memberi hidayah, ada niat, saya pasti bisa”, jelasnya berapi-api. Meski proses untuk kembali menjadi pria tak akan sama bagi semua waria, namun Viru menekankan bahwa tak ada kat terlambat bagi waria untuk kembali menjadi seorang pria. Selama ada niat yang kuat, usaha, serta dukungan dari orang sekitarnya.

Kemala Atmojo (1986 dalam Nadia, 2005) menjelaskan bahwa, waria adalah fenomena transseksualitas. Melalui pengamatan yang dilakukan, diasumsikan bahwa sebagian besar dari mereka merupakan transseksual. Istilah waria memang ditunjukkan untuk seorang transseksual (seseorang yang memiliki fisik yang berbeda dengan keadaan jiwanya). Ma’shum & Tyas (dalam Kompas, 2004) memberikan pengertian sederhana mengenai waria.

Waria secara fisik ingin berpenampilan seperti wanita, dan secara psikologis dia mengidentifikasikan  dirinya sebagai wanita, namun secara biologis adalah pria dengan organ reproduksi pria. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan kata waria menggantikan transseksual atau gender identity disorder, karena sebutan waria ini merupakan representasi bahasa Indonesia (waria/wanita-pria) dan lebih mudah dikenali dan dipahami oleh masyarakat secara umum.

Berdasarkan referensi klinis, terlihat bahwa laki-laki memiliki frekuensi enam kali lebih tinggi dari wanita menjadi transsexual (Zucker et al. Dalam Davidson, Neale & Kring, 2004). Masih dalam buku yang sama, berdasarkan data American Psychiatric Association menyatakan prevalensi gangguan ini berbeda tajam, satu di antara 30.000 laki-laki, dan satu di antara 100.000-150.000 perempuan mengalami gangguan ini.

Pembentukan “waria” tidak terjadi begitu saja, tetapi merupakan proses yang cukup panjang. Munculnya fenomena kewariaan tidak lepas dari kebiasaan-kebiasaan pada masa anak-anak ketika mereka dibesarkan di dalam keluarga, yang kemudian mendapat penegasan pada masa remaja, yang menjadi penyumbang terciptanya waria.

Tidak satu pun waria yang “menjadi waria” karena proses mendadak (Nadia, 2005). Hidup sebagai waria adalah hasil akhir dari akumulasi masalah-masalah yang dihadapi semasa proses “menjadi waria”, yang berlangsung dari masa anak-anak hingga ia mencapai dewasa (Koeswinarno, 2004). Contohnya adalah bernama Shika (dalam Koeswinarno, 2004), seorang waria yang dibesarkan dalam keluarga Jawa yang sangat kental dan ketat.

Menurut pengakuannya, sejak kecil penampilannya sudah berbeda dibandingkan dengan teman-teman laki-laki sebayanya. Shika masih ingat ketika ibunya hendak pergi ke pasar Beringharjo, ia justru memesan kepada ibunya perlengkapan permainan anak perempuan, bukan peralatan permainan anak laki-laki. Peristiwa-peristiwa demikian ini terjadi berulang kali dan di luar kesadaran orang tua terhadap perilaku anaknya.

Tanda-tanda berbeda tersebut jarang disadari oleh orang tua mereka, sehingga ketika perilaku itu menjadi perilaku yang menetap pada masa menginjak remaja, baru orang tua menyadari ada yang berbeda dengan anaknya. Sopjan (2005) mengalami hal yang serupa, dalam bukunya yang berjudul “Jangan Lihat Kelaminku, Suara Hati Seorang Waria”, mantan ratu waria ini mengungkapkan, sejak kecil dia sudah merasa ada yang berbeda dengan dirinya.

Terlihat dari tokoh pahlawan yang disukainya yang berjenis kelamin wanita, kesukaannya memakai pakaian yang ketat. Tanda ‘berbeda’ itu baru disadari ibunya saat dia berusia 18 tahun, surat cintanya pada “cowok”nya dibaca oleh kakak perempuannya. “saat gue usia 18, ibu gue tahu bahwa gue lain. Gara-gara surat buat cowok gue yang gue simpan di lemari terbaca kakak perempuan gue. Gue inget banget, sepulang sekolah ibu gue masuk ke kamar gue dengan raut wajah yang gue gak bisa lukiskan”

Dalam proses menjadi waria, individu mengalami masa dimana individu melakukan cross dressing (menggunakan pakaian lawan jenisnya) secara sembunyi-sembunyi. Hal ini dilakukan secara rahasia, karena ada ketakutan akan terbongkarnya perilaku mereka, dan adanya pertimbangan akan konsekuensi yang diterimanya jika perilakunya terbongkar (Ekins, 1997). Kejadian ini dialami oleh seorang waria (Koeswinarno, 2004) yang tidak disebutkan namanya untuk alasan kerahasiaan.

 “Ketika SMP, saya sering bercermin, memakai pakaian perempuan milik kakak saya dengan cara sembunyi-sembunyi di kamar. Sambil bergaya dan bicara sendirian, saya merasa ada hal yang tidak sama dengan fisik saya. Sering pula saya mencuri lipstik milik kakak perempuan saya atau ibu saya, sampai-sampai pernah suatu ketika ketahuan bapak.

Habislah saya. Saya dimarahi habis-habisan. Meskipun tidak sampai memukul, tetapi kemarahan ayah saya itu benar-benar menunjukkan ketidaksenangan kepada saya” Seiring dengan adanya kesadaran bahwa waria memiliki orientasi seksualnya berbeda, yang mungkin diketahuinya dari ulasan atau artikel dari majalah atau telah bertemu dengan waria lainnya, terdapat keinginan dan usaha yang semakin kuat untuk melakukan cross-dressing (Walters & Ross, 1986). Selain memakai pakaian perempuan, mereka juga memakai kosmetik, dan juga aksesoris perempuan (Johnson & Gordon, 1980), menghilangkan bulu-bulu kaki, dan bahkan merubah suaranya menyerupai warna suara perempuan (Koeswinarno, 2004).

Tidak hanya mengubah penampilannya, waria juga berusaha mengubah fisik mereka dengan berbagai cara. Baik melalui operasi payudara, bibir (Nadia, 2005), dan melakukan usaha manipulasi hormon (DSM-IV-TR, 2004). Untuk mengukuhkan diri sebagai perempuan, beberapa waria melakukan tindakan medis yang ekstrim, yaitu operasi penggantian kelamin, seperti yang dilakukan oleh Dorce Gamalama, seorang entertainer terkenal di Indonesia.

Dorce (dalam Gamalama & Gunawan, 2005) melakukan operasi penggantian kelamin di rumah sakit Dr. Soetomo Surabaya. Setelah itu, dia juga mengurus pengubahan jenis kelaminnya secara hukum di Pengadilan Negeri Surabaya, yang dikabulkan pada tahun 1986. Peran keluarga merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi perkembangan waria.

Seorang waria yang dilahirkan dalam keluarga yang baikbaik, taat beragama, berpendidikan, ditambah dengan keberadaan orang tua yang pada akhirnya menerima keberadaan mereka secara otomatis akan mempunyai pengaruh yang baik bagi perkembangan waria. Karena, jika keluarga sudah menerima keberadaan mereka, maka dukungan, baik itu secara moril atau pun materiil akan mereka dapatkan. Kemungkinan untuk dapat diterima oleh masyarakat dengan baik akan semakin tinggi pula.

Di Indonesia secara umum, hadirnya seorang waria tidak pernah dikehendaki oleh keluarganya. Dalam banyak kasus, banyak waria yang akhirnya pergi meninggalkan rumah dan keluarganya, setelah keluarganya menyadari bahwa dia “berbeda” dengan laki-laki pada umumnya. Tidak banyak waria yang diterima dengan baik oleh keluarganya (Nadia, 2005). Selain keluarga, masyarakat juga berperan penting dalam proses “menjadi waria”.

Yash (2003) mengemukakan, bahwa pandangan masyarakat memberi pengaruh besar pada proses pencapaian eksistensi seorang waria. Masyarakat Indonesia saat ini memiliki pemahaman yang salah terhadap waria dikarenakan minimnya sumber informasi yang layak mengenai waria.

Koeswinarno (2004) menambahkan, tekanan-tekanan dari masyarakat muncul lebih kompleks dibandingkan tekanan yang ada dalam keluarga. Pandangan bahwa dunia waria identik dengan pelacuran, melahirkan rekasi negatif dari masyarakat pada waria. Waria kerap dikucilkan, dicemooh, diprotes, dan ditekan dengan aturan yang ketat oleh lingkungan.

Berdasarkan data-data yang disebutkan tersebut sehingga memotivasi peneliti ingin mengetahui bagaimana usaha dan bentuk perilaku waria tersebut ketika ingin menjadi normal kembali atau menjadi kodrat yang sesungguhnya.



B.    Pertanyaan Peneliti


Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan, maka peneliti tertarik untuk mengetahui “Bagaimana usaha perilaku waria untuk menjadi normal”. Selain itu peneliti juga ingin mengetahui :

1.    Bagaimana kehidupan sehari-hari subjek?

2.    Bagaimana tanggapan keluarga dan masyarakat tentang subjek ?

3.    Bagaimana usaha yang dilakukan  subjek untuk kembali normal?


C.    Tujuan Penelitian


Tujuan dari penelitian ini adalah :

1.    Untuk mengetahui kehidupan sehari-hari subjek

2.    Mengetahui seperti apa tanggapan keluarga dan masyarakat tentang subjek

3.    Untuk mengetahui usaha serta bentuk perilaku subjek ketika ingin menjadi normal



D.    Manfaat Penelitian

1.    Manfaat Teoritis

a.    Dapat memberikan sumbangan teoritis bagi disiplin ilmu psikologi khususnya psikologi kepribadian

b.    Dapat memberikan sumbangan informasi bagi peneliti lain yang ingin mengadakan penelitian-penelitian lanjutan mengenai waria

2.    Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari penelitian ini adalah: sebagai bahan referensi atau acuan bagi kalangan yang tertarik dan terlibat dalam kehidupan waria.


BAB II
TINJAUAN TEORI


Waria adalah laki-laki yang berorientasi seks wanita dan berpenampilan seperti wanita. Waria benar-benar pria yang menunjukkan dirinya sebagai wanita. Waria, secara fisik ingin berpenampilan seperti wanita dan secara psikologis mereka mengidentifikasikan dirinya sebagai wanita. Secara biologis, para waria adalah pria dengan organ reproduksi pria meski ada beberapa waria yang kemudian berganti kelamin melalui operasi.

Namun demikian, organ reproduksi “baru” itu tidak bisa berfungsi seperti organ reproduksi wanita. Misalnya, tidak bisa haid dan tidak bisa hamil karena tidak punya sel telur dan rahim. Perlu diketahui bahwa seorang pria yang berperilaku mirip perempuan, belum tentu memiliki orientasi seksual homoseks.

Banyak juga pria dengan perilaku seperti itu yang orientasi seksualnya heteroseks. Kenapa dia bisa berperilaku seperti itu, kemungkinan diakibatkan oleh pola asuh dan faktor hormonal. Waria, dalam konteks psikologis, termasuk penderita transeksualisme, yakni seorang yang secara jasmani jenis kelaminnya jelas dan sempurna. Namun secara psikis cenderung untuk menampilkan diri sebagai lawan jenis.

A.     Teori Ekologis


Teori ini dikemukakan oleh Urie Bronfen Broiner (1917-2005). Teori ini mempunyai asumsi awal bahwa semua sistem individu mempunyai sistem yang beragam yang kompleks dalam konteks sosial. Menurut teori ekologis oleh Urie Bronfen Brainer, keluarga, teman, tetangga, guru sekolah disebut sebagai microsystem atau orang yang berhubungan langsung dengan individu, yang sangat mempengaruhi seorang individu.

Menurut teori ekologis oleh Urie Bronfen Brainer, keluarga, teman, tetangga, guru sekolah disebut sebagai microsystem atau orang yang berhubungan langsung dengan individu, yang sangat mempengaruhi seorang individu. Keluarga dalam banyak literatur mengenai sosialisasi juga disebutkan sebagai agen sosialisasi yang paling penting diantara semua agen-agen sosialisasi.


B.    Teori Sosialisasi


Sosialisasi adalah proses penanaman atau transfer kebiasaan atau nilai dan aturan dari satu generasi ke generasi lainnya dalam sebuah kelompok/masyarakat. Sosialisasi merupakan suatu kegiatan yang bertujuan agar pihak yang dididik atau diajak, kemudian mematuhi kaidah-kaidah, dan nilai-nilai yang berlaku dan dianut oleh masyarakat.

Tujuan pokok adanya sosialisasi tersebut bukanlah semata-mata agar kaidah-kaidah dan nilai diketahui serta dimengerti. Tujuan akhirnya adalah agar manusia bersikap dan bertindak sesuai dengan kaidah-kaidah dan nilai-nilai yang berlaku serta agar yang bersangkutan yang menghargainya. Dalam keluarga anak akan mendapatkan fungsi sosialisasi yang akan membentuk kepribadian dan penentu keberhasilan anak.

Dan keluarga menjadi faktor penting dalam memahami proses sosial secara umum karena keluarga sebagai unsur inti dalam struktur sosial. Proses sosialisasi merupakan proses belajar sosial yang berlangsung sepanjang hidup, bermula sejak individu lahir hingga mati.

Dalam proses sosialisasi ini individu mendapatkan pengawasan, pembatasan, hambatan dari manusia lain atau masyarakat. Tetapi individu juga mendapatkan dorongan, bimbingan, stimulasi, dan motivasi dari manusia lain atau masyarakatnya.

Sampai saat ini kehidupan waria masih belum bisa diterima oleh sebagian besar masyarakat kita, bahkan keluarga mereka sendiri, padahal pembentukan kepribadian seorang pria menjadi waria ternyata juga dipengaruhi oleh sosialisasi yang salah oleh agen-agen sosialisasi termasuk keluarga.

Untuk lebih jelasnya disini juga akan dijelaskan tentang peta kelainan seksual dari perspektif psikologi. Ada empat kelompok besar yang termasuk dalam gangguan psikoseksual, yaitu:


1.      Gangguan Identitas Jenis

Gangguan ini ditandai dengan adanya perasaan tidak senang terhadap jenis kelaminnya. Golongan ini adalah transeksualisme, gangguan identitas jenis masa anak-anak.

2.      Parafilia

Kelainan ini ditandai dengan adanya ketidak laziman pada obyek serta situasi seksualnya. Umumnya ia lebih menyukai pemakaian benda untuk merangsang dirinya sendiri dan tidak jarang ia melakukan hubungan seks dengan pasangan yang justru tidak dikehendakinya.. yang termasuk dalam golongan kelainan ini, yaitu sexual masochism, zoophylia, voyeurism, exhibitionism, transvetisme, dll.

3.      Disfungsi psikoseksual

Gangguan yang termasuk dalam kelompok ini adalah impotensi, ejakulasi, dll.

4.      Gangguan psikoseksual lainnya.

Keberadaan waria sebagai mahluk yang kurang sempurna, secra fisik maupun psikis. Untuk lebih jelasnya lagi Waria sendiri ada bermacam-macam gejalanya, yaitu :

a.     Homoseksual

Homoseksual adalah relasi seks dengan jenis kelamin yang sama, atau rasa tertarik dan mencintai jenis seks yang sama secara perasaan atau secara erotik, baik secara predominsn maupun ekslusif terhadap orang-orang yang berjenis kelamin sama, dengan atau tanpa hubungan fisik. Jadi pada intinya homoseksual merupakan seorang laki-laki yang normal dari segi fisik maupun psikisnya.

Dia tetap merasa kalau dirinya adalah laki-laki sehat, akan tetapi orientasi seksualnya yang bermasalah atau mengalami gangguan, yaitu ketertarikannya terhadap sesame laki-laki lebih dominant.

Yang membedakan homoseksual dengan waria adalah dalam segi berpakaian dan berpenanmpilan, seorang homoseks tidak perlu berpenampilan selayaknya penampilan seorang perempuan. Munculnya gejala perilaku homoseksual ada yang berpendapat bahwa hanya merupakan tren atau gaya hidup dari masyarakat modern. Jadi problem perilaku homoseksual merupakan sebab dari factor lingkungan.

b.     Hermafrodit

Hermafrodit adalah keadaan ekstrem interseksualitas dengan gangguan perkembangan pada proses pembedaan kelamin, apakah akan dibuat perempuan atau laki-laki. Pada kelompok hermafrodit kesulitan utama adalah ketika ia harus ditentukan jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan. Waria hermafrodit jelas secara fisik-biologis dia mengalami kelainan.

Pada kenyataannya keberadaan kaum hermafrodit merupakan cacat yang diderita semenjak lahir (karena berkaitan dengan fisik) dan bisa dikembalikan normal sesuai dengan jenis kelaminnya. Dalam kasus hermafrodit, para medis menyatakan bahwa setiap 20.000 kelahiran akan selalu didapati kasus semacam ini. Hermafrodit sendiri dibagi menjadi dua macam, yaitu :

1)     Hermafrodit Sejati, adalah keadaan bahwa seseorang mempunyai alat kelamin dalam perempuan dan alat kelamin laki-laki sekaligus.

2)     Hermafrodit Palsu, adalah seseorang yang memiliki alat kelamin dalam, dari satu jenis kelamin, namun beralat kelamin luar, dari jenis kelamin lawannya. Hermafrodit palsu ini ada tiga macam, yaitu:

a)     Pseudohermafrodit laki-laki bersifat laki-laki (Masculinizing male pseudohermafrodi)t. Secara umum tampak seperti laki-laki atau seperti perempuan, memiliki testis yang tidak sempurna, alat kelamin luar meragukan tetapi kira-kira penis, payudara tidak berkembang, tubuh berambut seperti laki-laki.

b)     Pseudohermafrodit laki-laki bersifat perempuan (Feminizing male pseudohermafrodit). Secara umum tampak seperti perempuan, payudara berkembang. Ada yang mempunyai perilaku seks seperti perempuan, meskipun tanpa sadar, jelas mempunyai testis tanpa jaringan ovarium tetapi kurang sempurna karena rangsangan feminisasi, penisnya menyerupai klitoris yang besar, tidak terdapat haid karena tidak ada jaringan ovarium.

c)      Pseudohermafrodit perempuan. Secara umum tampak seperti laki-laki, alat kelamin luar meragukan, mempunyai ovarium akan tetapi tidak sempurna.

Dengan demikian hermafrodit termasuk dalam kelainan seksualitas jika dilihat dari kacamata biologis-medis. Seperti yang telah dijelaskan bahwasanya hermafrodit disebabkan oleh kelaianan ketidak seimbangan hormon saat lahir.

c.      Transvetisme

Transvetisme adalah sebuah nafsu yang patologis untuk memakai pakaian dari lawan jenis kelaminnya. Dan dia akan mendapatkan kepuasan seks dengan memakai pakaian dari jenis kelamin lainnya. Dalam transvetisme yang lebih ditonjolkan adalah kepuasan seks seseorang yang didapat dari cara berpakaian yang berlawanan dengan jenis kelaminnya.

Jika seseorang itu berjenis kelamin laki-laki maka ia akan mendapatkan kepuasan seks dengan memakai pakaian perempuan. Sebaliknya, jika seseorang itu berjenis kelamin perempuan, ia akan mendapatkan kepuasan seks hanya dengan memakai pakaian laki-laki. Pakaian baginya adalah sebaga alat untuk meningkatkan dan menimbulkan gairah seks.

Seorang transvetis yang diserang pada umumnya adalah daya khayalnya, yakni bahwa dengan imajinasi dan intuisi melalui cara berpakaian lawan jenisnya, ia merasakan sebuah kenikmatan seksual. Disini seorang transvetisme tetap berusaha untuk mempertahankan identitas kelaminnya, meski ia memakai pakaian yang bukan untuk jenisnya. Dengan demikian transvetisme termasuk dalam gangguan psikoseksual parafilia yang sampai saat ini belum dapat diketahui penyebabnya.

d.     Transeksual

Pada waria, sebagai seorang transeksualis, memiliki karakteristik yang berbeda. Seorang transeksualis, secara jenis kelamin sempurna dan jelas, tetapi secara psikis cenderung menampilkan diri sebagai lawan jenis.

Transeksual lebih banyak dialami oleh kaum laki-laki dibanding kaum perempuan. Kaum transeksual adalah kondisi psikis bukan dari pakaian yang mereka kenakan, sehingga kaum transeksual sering dianggap sebagai orang yang terjebak pada jenis kelamin yang salah karena identitas kelaminnya yang terganggu.

Sebagai gejala transeksualisme, yakni gejala merasa memiliki seksualitas yang berlawanan dengan struktur fisiknya, keinginan untuk mengubah jenis kelaminnya lebih banyak ditentukan oleh factor psikis. Maka berbagai cara dilakukan untuk mengubah dirinya menjadi seorang perempuan. Adapun ciri-ciri kaum waria transeksual adalah sebagai berikut :

1)     Identifikasi transeksual harus sudah menetap minimal 2 tahun dan merupakan gejala dari gangguan jiwa lain seperti skizofrenia, atau berkaitan dengan kelaiana intersesk, genetic atau kromosom.

2)     Adanya hasrat untuk hidup dan diterima sebagai anggota dari lawan jenisnya biasanya disertai perasaan risih dan ketidakserasian anatomi tubuhnya.

3)     Adanya keinginan untuk mendapatkan terapi hormonal dan pembedahan untuk membuat tubuhnya semirip mungkin dengan jenis kelamin yang diinginkan.

Pada waria transeksual pun masih dibagi menjadi beberapa tipe, yaitu :

1)     Transeksual yang aseksual, yaitu seorang transeksual yang tidak berhasrat atau tidak mempunyai gairah seksual yang kuat.

2)     Transeksual homoseksual, yaitu seorang transeksual yang memiliki kecenderungan tertarik pada jenis kelamin yang sama sebelum ia sampai ke tahap transeksual murni.

3)     Transeksual yang heteroseksual, yaitu seorang transeksual yang pernah menjalani kehidupan heteroseksual sebelumnya


BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.     Jenis Penelitian


Penelitian tentang “bagaimana usaha dan bentuk perilaku waria ketika ingin menjadi normal” ini menggunakan metode pendekatan kualitatif. Penelitian kualitatif artinya data yang diperoleh akan dikumpulkan dan diwujudkan secara langsung dalam bentuk deskripsi atau gambaran tentang suasana/keadaan objek secara menyeluruh dan apa adanya berupa kata-kata lisan atau tertulis dari orang atau perilaku yang diamati (Moleong, 1988:3).

Jenis penelitian kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data berupa kata-kata tertulis yang merupakan deskripsi tentang suatu hal. Data-data tersebut diperoleh melalui kegiatan pengamatan di lapangan, dan wawancara. Dengan metode ini diharapkan agar data yang sudah terkumpul selanjutnya dapat disusun menjadi sebuah penelitian ilmiah.


B.    Batasan istilah


Dalam rangka menghindari kesalahan interpretasi dan anggapan yang keliru dari berbagai pihak terhadap judul dan pembahasan ini, makan peneliti perlu merumuskan batasan istilah yang digunakan. Adapaun batasan istilah yang dimaksudkan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1.    Waria adalah laki-laki yang berorientasi seks wanita dan berpenampilan seperti wanita.

2.    Normal adalah suatu kondisi yang sesuai dengan kondisi yang seharusnya.


C.    Informan Penelitian


Informan penelitian adalah orang yang narasumber dalam penelitian, berdasarkan judul yang ingin diteliti adalah usaha perilaku waria yang ingin menjadi normal, maka peneliti mengambil dua informan pada penelitian ini. dikarenakan informan penelitian yang peneliti temukan terbatas.


D.    Waktu dan Lokasi Penelitian


Lokasi penelitian adalah tempat dimana peneliti akan melakukan penelitian terhadap subyek. Dalam penelitian ini, peneliti memilih lokasi di wilayah Makassar.


E.     Instrumen Penelitian


Instrumen dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri sebagai alat pengumpulan data utama. Hal ini dilakukan karena peneliti ingin memahami kaitan antara kenyataan yang ada di  lapangan. Peneliti sebagai perencana, pelaksana, menganalisis, menafsirkan, hingga melaporkan hasil penelitian. Buku catatan lapangan yang diperoleh langsung dari lokasi penelitian merupakan bagian dari instrumen penelitian.


F.     Metode Pengumpulan Data


Untuk memperoleh data-data yang sesuai dengan penelitian diperlukan teknik pengumpulan data dengan cara menggunakan peranan manusia sebagai instrumennya, mulai dari observasi hingga wawancara, Adapun langkah-langkah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1.      Observasi


Pengamatan (observasi), yaitu cara pengumpulan data dengan melibatkan hubungan interaksi sosial antara peneliti dan informan dalam suatu latar penelitian (pengamatan objek penelitian di lapangan). Pengamatan dilakukan dengan mengamati dan mencatat semua peristiwa. Cara ini bertujuan untuk mengetahui kebenaran/fakta yang ada di lapangan (Moleong, 1988:125-126). Metode observasi ini peneliti lakukan terutama pada kehidupan waria pada kesehariannya

2.      Wawancara


Wawancara yaitu cara penelitian dengan wawancara antara peneliti dan informan secara nonformal, artinya peneliti melakukan tanya jawab dengan informan menggunakan bahasa santai seperti berbicara biasa. Hal ini bertujuan agar antara peneliti dan informan tidak ada jarak sehingga tanya jawab berlangsung santai (Moleong, 1988:136).



G.    Teknik Analisi Data


Ada beberapa cara yang digunakan untuk menganalisis data. Menurut Usman dan Akbar (Dewi, 2004) terdapat tiga langkah dalam menganalisis data, diantaranya adalah sebagai berikut :

1.      Reduksi Data

Reduksi data dilakukan dengan memilih hal-hal pokok yang sesuai dengan fokus penelitian, kemudian data-data yang telah direduksi memberikan gambaran yang lebih tajam tentang hasil pengamatan dan mempermudah peneliti untuk mencarinya jika sewaktu-waktu diperlukan. Reduksi data dapat pula membantu memberikan kode-kode pada aspek tertentu.

2.      Display Data

Data yang menumpuk kurang dapat  memberikan gambaran secara menyeluruh. Oleh sebab itu diperlukan display data yang menyajikan matriks grafik atau sketsa tentang bagian penting data.

3.      Mengambil Keputusan dan Verifikasi

Data yang telah melalui proses display dan telah diidentifikasi dengan data yang lain, maka akan dicari hubungan, pola, dan persamaan yang sering muncul, kemudian menarik kesimpulan berdasarkan data tersebut. Kesimpulan yang ditarik, harus diverifikasi lebih awal sebelum berakhirnya penelitian. Hal ini diperlukan dalam rangka mengantisipasi terjadinya kekeliruan dalam pengambilan data, analisis dan penarikan kesimpulan.



H.    Keabsahan Data

Untuk mengecek validitas temuan, maka pengecekan validitas yang digunakan adalah validitas permukaan. Pengertian Validitasi menurut H. Hadari Nawawi (1987) bahwa validitas pengumpulan data ini dinyatakan melalui bagaimana kelihatannya suatu alat pengumpulan data itu dalam mengungkapkan data yang diperlukan untuk memecahkan suatu masalah.

Terkait dengan permasalahan yang akan diteliti, maka peneliti menggunakan validitas permukaan, yaitu dengan meneliti kesesuaian terjemahan butir-butir pertanyaan yang tercantum dalam instrument penelitian berdasarkan variabel yang diteliti. Dengan kata lain apakah alat atau instrument itu benar-benar kelihatan dan dapat mengungkapkan fenomena-fenomena dan atau gejala-gejala yang hendak diteliti.



DAFTAR PUSTAKA


Junaidi, Iskandar dan Dorce Tandung. 2012. Anomali Jiwa. Yogyakarta: Penerbit Andi.

NN. TT. Waria yang ingin menjadi normal. http://www.gunadarma.ac.id. 11 Desember

NN. TT. Hasil penelitian tentang waria. http://digilib.unsby.ac.id. 11 Desember



CONTOH KEDUA Proposal Penelitian Kualitatif


BUDAYA KOMUNIKASI MASYARAKAT MADURA


(Studi pada komunitas Madura di desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan

Kabupaten Probolinggo)


A.   LATAR BELAKANG MASALAH


Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial, manusia senantiasa berhubungan dengan manusia lainnya, ingin mengetahui lingkungan sekitarnya, bahkan ingin mengetahui apa yang terjadi dalam dirinya, karena setiap orang yang hidup dalam masyarakat sejak ia bangun tidur hingga ia tidur kembali, secara kodrati senantiasa terlibat dalam komunikasi, terjadinya komunikasi adalah sebagai konsekuensi hubungan sosial (Social Relations)  masyarakat, paling sedikit dua orang yang saling berhubungan satu sama lainnya yang menimbulkan sebuah interaksi sosial (Social Interaction), terjadinya interaksi sosial disebabkan interkomunikasi.[1]

Komunikasi sangat penting peranannya bagi kehidupan sosial, budaya, politik dan pendidikan, karena komunikasi merupakan proses dinamik transaksional yang mempengaruhi perilaku, yang mana sumber dan penerimaannya sengaja menyandi (to code) perilaku mereka untuk menghasilkan pesan yang mereka salurkan melalui suatu saluran (Channel) guna merangsang atau memperoleh sikap atau perilaku tertentu sebagai konsekuensi dari hubungan sosial[2]

Tampaknya tak dapat dihindari lagi bahwa proses komunikasi ini sangat vital dan mendasar bagi komunikasi sosial, dikatakan vital karena setiap individu memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan individu yang lainnya, dengan begitu menetapkan kredibilitasnya sebagai seorang anggota masyarakat dan dikatakan mendasar karena manusia baik yang primitif maupun yang modern berkeinginan mempertahankan suatu persetujuan mengenai berbagai hal aturan sosial komunikasi.

Oleh karena itu yang harus ditekankan adalah bagaimana komunikasi bisa berjalan efektif dan efisien sehingga pesan yang diterima, ditafsirkan sama antara komunikator dan komunikan. Artinya komunikasi yang efektif, terjadi tidak hanya sekedar saat seseorang telah melekatkan arti tertentu terhadap perilaku orang lain tetapi juga pada persepsinya yang sesuai dengan pemberi pesan atau informasi.

Salah satu cara untuk menjamin hal itu adalah dengan menghindarkan pesan yang tidak jelas atau tidak spesifik serta dengan meningkatkan frekuensi umpan balik (feed back) guna mengurangi tingkat ketidakpastian dan tanda tanya, yakni dengan cara memahami bagaimana budaya komunikasi dari lawan bicara kita nantinya, sehingga salah tafsir dari penyampaian pesan dapat dihindarkan meskipun mempunyai latar belakang kehidupan yang hampir sama dengan kita.

Bertahun – tahun lalu Raymond Williams (1962) secara ringkas dan tegas mendefinisikan Budaya sebagai” suatu cara hidup tertentu” yang dibentuk oleh nilai, tradisi, kepercayaan, obyek material dan wilayah (territory),[3] Budaya adalah suatu ekologi yang kompleks dan dinamis dari orang, benda, pandangan tentang dunia, kegiatan dan latar belakang (setting) yang secara fundamental bertahan lama tetapi juga berubah dalam komunikasi dan interaksi sosial yang rutin, budaya adalah konteks.

Budaya adalah cara kita berbicara dan berpakaian, makanan yang kita makan dan cara kita menyiapkannya dan mengkonsumsinya, dewa-dewa yang kita ciptakan dan cara kita memujanya, cara kita membagi waktu dan ruang, cara kita menari, nilai-nilai yang kita sosialisasikan kepada anak-anak kita dan semua detail lainnya yang membentuk kehidupan sehari-hari.

Perspektif tentang budaya ini mengimplikasikan bahwa tak ada budaya yang secara inheren lebih unggul dari budaya yang lainnya dan bahwa kekayaan budaya tidak ada kaitannya sama sekali dengan status ekonomi, budaya sebagai kehidupan sehari-hari merupakan idea yang tetap demokratis.[4]

Hal inilah yang memotivasi peneliti untuk mengkaji bagaimana cara atau praktek komunikasi dalam masyarakat Madura khususnya Di Desa Karang Geger dari segi bahasa, baik bahasa Verbal maupun Nonverbal, yang biasanya dilakukan antara komunikator dan komunikan yang berlatar belakang kebudayaan sama, namun berbeda dengan masyarakat Madura pada umumnya, yang terkesan kasar dan bernada tinggi, masyarakat Madura di Desa Karang Geger kec. pajarakan, Kab. Probolinggo terkesan Sopan, Ramah, Lemah lembut bahkan sebagian besar dari mereka mampu berbahasa Jawa krama yang mungkin belum tentu orang jawa lakukan, hal inilah yang menarik perhatian peneliti untuk mengkaji hal ini.



B. RUMUSAN MASALAH


Dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka penelitian ini berusaha menjawab permasalahan sebagai berikut :

1.      Bagaimana budaya komunikasi masyarakat Madura khususnya di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dari segi penggunaan bahasa ?

2.      Simbol-simbol komunikasi apa yang digunakan masyarakat Madura khususnya di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dalam proses komunikasi?



C.  MAKSUD DAN TUJUAN PENELITIAN


Bertitik tolak pada rumusan masalah  di atas, maka maksud dan tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut  :

1.      Untuk mengetahui Budaya Komunikasi masyarakat Madura khususnya di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dari segi penggunaan bahasa

Untuk memahami simbol-simbol komunikasi yang digunakan masyarakat Madura khususnya di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dalam proses komunikasi yang biasa mereka gunakan sehari-hari.


D.    KEGUNAAN PENELITIAN


Adapun kegunaan dari penelitian ini diharapkan berdaya guna sebagai berikut:

a.    Secara teoritis

1.      Hasil Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan terhadap pengembangan ilmu Komunikasi, khususnya komunikasi budaya.

2.      Diharapkan dapat memperkaya kajian budaya khususnya di bidang komunikasi dalam Masyarakat Madura

b.   Secara Praktis

1.      Hasil Penelitian ini diharapkan dapat di jadikan salah satu informasi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan khususnya komunikasi budaya yang ada hubungannya dengan Program Studi Komunikasi.

2.      Untuk membantu masyarakat demi menghindari kesalahpahaman persepsi dari sebuah pesan yang disampaikan komunikan yang berbeda Budaya atau bahkan sama dengan kita.

3.      Untuk memenuhi syarat-syarat memperoleh gelar strata satu (S1) pada Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya



E.     DEFINISI KONSEP


Konsep adalah unsur pokok daripada penelitian [5]. Kalau masalahnya dan kerangka teoritisnya sudah jelas, biasanya sudah diketahui pula fakta mengenai gejala – gejala yang menjadi pokok penelitian dan suatu konsep sebenarnya adalah definisi secara singkat dari sekelompok fakta atau gejala itu.

Sehubungan dengan hal di atas , maka dalam pembahasan perlulah kiranya peneliti membatasi dari sejumlah konsep yang diajukan dalam penelitian dalam judul skripsi ini Budaya Komunikasi masyarakat Madura (Studi pada komunitas Madura di desa Karang Geger kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo) adalah yang mempunyai konsep – konsep antara lain :

·        Budaya Komunikasi

Budaya dan komunikasi merupakan dua konsep yang tidak dapat dipisahkan. Pusat perhatian budaya dan komunikasi terletak pada Variasi langkah dan cara manusia berkomunikasi melintasi komunitas manusia atau kelompok sosial.

Pelintasan komunikasi ini menggunakan kode – kode pesan, baik secara verbal maupun nonverbal, yang secara alamiah selalu digunakan dalam konteks interaksi. Dalam hal ini juga meliputi bagaimana menjajaki makna, pola- pola tindakan dan bagaimana makna serta pola – pola itu di artikulasi dalam sebuah kelompok sosial, kelompok budaya, kelompok politik, proses pendidikan bahkan lingkungan teknologi yang melibatkan interaksi antar manusia.

·        Masyarakat Madura

Dalam penelitian ini masyarakat Madura adalah masyarakat yang tinggal dan hidup di Desa Karang Geger kecamatan Pajarakan kabupaten Probolinggo, Di mana dalam kehidupan sehari-hari menggunakan bahasa madura dalam berkomunikasi serta memiliki keturunan orang madura asli yang berasal dari Pulau madura meskipun mereka tidak dilahirkan di madura,

Dalam hal ini masyarakat Madura Dalam berkomunikasi sangat dipengaruhi oleh tradisi mereka yang sangat khas, mulai dari logat bahasa, cara mereka bertutur kata, menyampaikan pesan yang ada dalam pikiran mereka sampai pada pengungkapan atau pengekspresian perasaan mereka.

Pada umumnya masyarakat Madura dalam pengungkapan perasaan dan pola pikir mereka akan suatu hal cenderung tidak pakai basa basi, langsung pada pembicaraan utama, hal ini dikarenakan masyarakat Madura lebih menghargai waktu daripada kemasan pesan yang akan disampaikan. Namun berbeda dengan komunitas madura yang ada di desa karang Geger.

Yang lebih menghargai lawan bicara mereka sehingga mereka berusaha semaksimal mungkin memperhalus kemasan pesan mereka agar tidak sampai menyinggung perasaan lawan bicaranya. Meskipun mereka tidak perlu merangkai kata-kata yang indah, tapi enak di dengar, mereka lebih mengutamakan inti pesan, agar pesan tersebut bisa dengan mudah dipahami oleh lawan bicaranya.

Kadang kala komunitas madura terlihat sangat emosional dengan nada bicara yang agak keras, meskipun pesan yang disampaikan mempunyai makna atau arti yang biasa (tidak marah), dan itu merupakan kebiasaan masyarakat Madura pada umumnya namun tidak dengan komunitas madura di Karang Geger.

Dalam berinteraksi dengan sesama maupun dengan orang di luar komunitas Madura mereka tetap meggunakan bahasa yang halus walaupun kebiasaan bicara dengan nada tinggi masih tetap saja melekat yang sudah menjadi ciri khas orang Madura sehingga orang yang diajak bicara harus paham makna pesan yang disampaikan agar tidak terjadi kesalahpahaman.


F.      KERANGKA TEORITIK


Dalam penelitian ini menggunakan kerangka pemikiran yakni teori Interaksi Simbolik milik Herbert Blumer, kerangka pemikiran ini mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam penelitian ini, karena di dalamnya memiliki tendensi-tendensi pemikiran yang kuat untuk menganalisis penelitian ini untuk lebih jelasnya, akan kami bahas  mengenai kerangka pemikiran tersebut, sebagai berikut:

Teori Interaksi Simbolik


Istilah interaksi simbolik diciptakan oleh Herbert Blumer pada tahun 1937 dan dipopulerkan oleh Blumer juga,[6] meskipun sebenarnya Mead-lah yang paling popular sebagai peletak dasar teori tersebut.

Esensi dari teori  Interaksi simbolik adalah suatu aktivitas yang merupakan ciri khas manusia, yakni  komunikasi atau pertukaran simbol yang diberi makna Blumer mengkonseptualisasikan manusia sebagai pencipta atau pembentuk kembali lingkungannya, sebagai perancang dunia obyeknya dalam aliran tindakannya, alih–alih sekedar merespons pengharapan kelompok.

Perspektif interaksionisme simbolik berusaha memahami perilaku manusia dari sudut pandang subyek, perspektif ini menyarankan bahwa perilaku manusia harus dilihat sebagai proses yang memungkinkan manusia membentuk dan mengatur perilaku mereka dengan mempertimbangkan keberadaan orang lain yang menjadi mitra interaksi mereka.

 Definisi yang mereka berikan kepada orang lain, situasi, obyek dan bahkan pada diri mereka sendiri yang menentukan perilaku mereka. Perilaku mereka tidak dapat digolongkan sebagai kebutuhan, dorongan impuls, tuntutan budaya atau tuntutan peran, manusia bertindak hanya berdasarkan pada definisi atau penafsiran mereka atas obyek-obyek di sekeliling mereka.

Dalam pandangan interaksi simbolik, sebagaimana ditegaskan Blumer proses sosial dalam kehidupan kelompoklah yang menciptakan dan menegakkan kehidupan kelompok, dalam konteks ini, maka  makna dikontruksikan dalam proses interaksi dan proses tersebut bukanlah suatu medium netral yang memungkinkan kekuatan-kekuatan sosial memainkan peranannya, melainkan justru merupakan substansi sebenarnya dari organisasi sosial  dan kekuatan sosial.

Bagi penganut interaksi simbolik memungkinkan mereka menghindari problem-problem struktulisme dan idealisme dan mengemudikan jalan tengah dari problem tersebut.

Menurut teori Interaksi simbolik, kehidupan sosial pada dasarnya adalah interaksi manusia yang menggunakan simbol-simbol, mereka tertarik pada cara manusia menggunakan simbol-simbol yang merepresentasikan apa yang mereka maksudkan untuk berkomunikasi dengan sesamanya. Dan juga pengaruh yang ditimbulkan dari penafsiran simbol-simbol tersebut terhadap perilaku pihak-pihak yang terlihat dalam interaksi sosial.[7]

Penganut interaksi simbolik berpandangan, perilaku manusia pada dasarnya adalah produk dari interpretasi mereka atas dunia dari sekeliling mereka jadi tidak mengakui bahwa perilaku itu dipelajari atau ditentukan sebagaimana dianut teori Behavioristik atau teori struktural.

Secara ringkas Teori Interaksionisme simbolik didasarkan pada premis-premis berikut,[8] pertama individu merespons suatu situasi simbolik, mereka merespon lingkungan termasuk obyek fisik (benda) dan Obyek sosial (perilaku manusia) berdasarkan media  yang dikandung komponen-komponen lingkungan tersebut bagi mereka.

Kedua, makna adalah produk interaksi sosial, karena itu makna tidak melihat pada obyek, melainkan dinegosiasikan melalui penggunaan bahasa, negosiasi itu dimungkinkan karena manusia mampu mewarnai segala sesuatu bukan hanya obyek fisik, tindakan atau peristiwa (bahkan tanpa kehadiran obyek fisik, tindakan atau peristiwa itu) namun juga gagasan yang abstrak.

Ketiga, makna yang interpretasikan individu dapat berubah dari waktu ke waktu, sejalan dengan perubahan situasi yang ditemukan dalam interaksi sosial, perubahan interpretasi dimungkinkan karena individu dapat melakukan proses mental, yakni berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

G.       METODE PENELITIAN


Skripsi ini tersusun dengan kelengkapan ilmiah yang disebut sebagai metode penelitian, yaitu cara kerja penelitian sesuai dengan cabang – cabang ilmu yang menjadi sasaran atau obyeknya.[9] Cara kerja tersebut merupakan pengetahuan tentang langkah-langkah sistematis dan logis dalam upaya pencarian data yang berkenaan dengan masalah-masalah penelitian guna diolah, dianalisis, diambil kesimpulan dan selanjutnya dicarikan solusinya.[10]

Metode dalam suatu penelitian merupakan upaya agar penelitian tidak diragukan bobot kualitasnya dan dapat dipertanggungjawabkan validitasnya secara ilmiah. Untuk itu dalam bagian ini memberi tempat khusus tentang apa dan bagaimana pendekatan dan jenis penelitian, Obyek penelitian, jenis dan sumber data, tahapan penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data, dan teknik keabsahan data.

a.      Pendekatan dan Jenis Penelitian


Penelitian ini, menggunakan pendekatan fenomenologi. Alfred Schutz sebagai salah satu tokoh teori ini berpendirian bahwa tindakan manusia menjadi suatu hubungan sosial bila manusia memberi arti atau makna tertentu terhadap tindakannya itu, dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti.[11]

Ada empat unsur pokok dari teori ini yakni: pertama, perhatian terhadap aktor.  Kedua, memusatkan pada pernyataan yang penting atau yang pokok dan kepada sikap yang wajar atau alamiah (natural attitude). Ketiga, memusatkan perhatian terhadap masalah mikro. Keempat, memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan dalam dinamika agama, sosial dan budaya masyarakat urban

Namun penelitian ini juga menggunakan pendekatan etnografis, yang mencoba melakukan pengumpulan, penggolongan (pengklasifikasian) dan penganalisaan terhadap budaya komunikasi masyarakat madura.

  Sedangkan jenis penelitian ini termasuk jenis penelitian kualitatif dengan berdasarkan pada : data yang muncul berwujud kata – kata dan bukan rangkaian angka. Serta dengan metode penelitian deskriptif artinya melukiskan variabel demi variabel, satu demi satu. Metode penelitian deskriptif  bertujuan untuk :

1.      Mengumpulkan informasi aktual secara rinci yang melukiskan gejala yang ada.

2.      Mengidentifikasi masalah atau memeriksa kondisi dan praktek-praktek yang berlaku.

3.      Membuat perbandingan atau evaluasi.

4.      Menentukan apa yang dilakukan dalam menghadapi masalah yang sama dan belajar dari pengalaman mereka untuk menetapkan rencana dan keputusan pada waktu yang akan datang.[12]

Dengan demikian, metode deskriptif ini digunakan untuk menggambarkan secara sistematis dan mendalam fakta atau karakteristik populasi tertentu atau bidang tertentu, dalam hal ini kajian budaya komunikasi, secara aktual dan cermat.

Metode deskriptif  pada hakekatnya adalah mencari teori, bukan menguji teori. Metode ini menitik beratkan pada observasi dan suasana alamiah. Peneliti bertindak sebagai pengamat. Ia hanya membuat kategori pelaku, mengamati gejala dan mencatatnya dalam buku observasi. Dengan suasana alamiah berarti peneliti terjun ke lapangan. Ia tidak berusaha memanipulasi variabel karena kehadirannya mungkin mempengaruhi gejala, peneliti harus berusaha memperkecil pengaruh tersebut.[13]

3.      Sedangkan metode yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah metode deskriptif yaitu melakukan analisis terhadap Budaya komunikasi Masyarakat Madura studi di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dari segi penggunaan bahasa serta Simbol – simbol yang digunakan masyarakat Madura studi di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dalam proses komunikasi

Penelitian kualitatif biasanya menekankan observatif partisipatif, wawancara mendalam dan dokumentasi.[14] Maka dalam penelitian ini, peneliti menekankan pada observasi dan wawancara mendalam dalam menggali data bagi proses validitas penelitian ini, tetapi tetap menggunakan dokumentasi.

Melihat konsepsi penelitian di atas, maka sudah sesuai dengan konteks permasalahan yang diangkat dalam penelitian ini. Karena dalam penelitian ini, peneliti ingin mengetahui Budaya komunikasi Masyarakat Madura studi di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dari segi penggunaan bahasa serta bagaimana orang Madura mengkomunikasikan diri mereka melalui Bahasa Verbal dan Non Verbal.

Setelah mendapatkan data atau informasi yang dimaksud, maka langkah selanjutnya yang ditempuh oleh peneliti yaitu menggambarkan informasi atau data tersebut secara sistematis untuk kemudian di analisis dengan menggunakan perbandingan dan perpaduan dengan teori yang sudah ada.

b.      Obyek Penelitian


Wilayah penelitian yang dijadikan obyek atau sasaran dalam penelitian ini. Sebagaimana dijelaskan dalam konseptualisasi penelitian yaitu Budaya Komunikasi serta simbol – simbol yang digunakan dalam proses komunikasi Masyarakat madura studi di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo, Alasan dipilihnya desa ini adalah karena komunitasnya masih kuat mempertahankan identitas kulturalnya melalui berbagai ritualitas, meskipun mereka tidak tinggal di madura. Kuatnya identitas kultural tersebut diperkuat dengan masih mentradisinya bentuk – bentuk folklor dalam realitas kehidupan sehari – hari. Dengan memiliki aksesbilitas yang lebih terbuka serta kondisi sosial ekonomi rendah dan mempunyai tingkat mobilitas yang tinggi.

c.       Jenis dan Sumber data       


Jenis data dalam penelitian ini dibagi dalam bentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data yang tertulis.[15] Sedangkan sumber data dalam penelitian ini, disesuaikan dengan apa yang di konsepsikan oleh Lofland dan Lofland (1984: 47), bahwa sumber data utama dalam penelitian kualitatif ialah kata-kata dan tindakan, selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain.[16] Berikut ini akan peneliti jelaskan mengenai jenis-jenis data yang berbentuk kata-kata dan tindakan serta sumber data yang tertulis.

1.       Kata-kata dan Tindakan


Kata-kata dan tindakan yang diamati atau diwawancarai merupakan sumber utama. Sumber data utama dicatat melalui cacatan tertulis atau melalui perekaman video / audio tapes, pengambilan foto atau film.[17]

Dalam upaya mengumpulkan sumber data yang berupa kata-kata dan tindakan dengan menggunakan alat (instrumen) penelitian seperti tersebut di atas merupakan konsep yang ideal, tetapi dalam konteks ini, ketika peneliti melakukan proses wawancara dalam upaya menggali data atau informasi yang berkaitan dengan penelitian ini, peneliti hanya menggunakan alat bantu yang berupa referensi sebagai pisau bedah di lapangan dan buku tulis serta bolpoint untuk mencatat informasi yang disampaikan oleh informan yakni tokoh – tokoh masyarakat dan ketua adat yang sering mereka sebut  kyai dalam komunitas Madura yang cukup berpengaruh.

2.      Sumber Tertulis


Sumber tertulis dapat dikatakan sebagai sumber kedua yang berasal dari luar sumber kata-kata dan tindakan. Dilihat dari sumber data, bahan tambahan yang berasal dari sumber tertulis dapat dibagi atas sumber buku dan majalah ilmiah, sumber dari arsip, dokumen pribadi dan dokumen resmi.[18]

Dalam konteks ini, upaya untuk menggali data informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti mencari sumber data tertulis untuk memperkuat hasil penelitian. Dalam hal ini peneliti mendapatkan sumber data tertulis berupa buku yang berkaitan dengan kajian Budaya komunikasi Masyarakat madura serta Buku Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dalam angka dan berbagai buku penunjang lainnya..

d.      Tahap-Tahap Penelitian


Tahap-tahap penelitian yang digunakan peneliti dalam penelitian ini ada dua, yaitu:

Tahap Pra Lapangan
                           i.      Menyusun Rancangan Penelitian[19]

Dalam konteks ini, peneliti terlebih dahulu membuat rumusan permasalahan yang akan dijadikan obyek penelitian, untuk kemudian membuat matrik usulan judul penelitian sebelum melaksanakan penelitian hingga membuat proposal penelitian.

                         ii.      Memilih Lapangan Penelitian

Cara terbaik yang perlu ditempuh dalam penentuan lapangan penelitian ialah dengan jalan mempertimbangkan teori substantif, pergilah dan jajakilah lapangan untuk melihat apakah terdapat kesesuaian dengan kenyataan yang berada di lapangan.[20]

                        iii.      Mengurus Perizinan

Setelah membuat usulan penelitian dalam bentuk proposal, peneliti mengurus izin kepada atasan peneliti sendiri, ketua jurusan, dekan fakultas, kepala instansi seperti pusat dan lain-lain.[21]

Tahap Orientasi

Pada tahap ini, peneliti akan mengadakan pengumpulan data secara umum, melakukan observasi dan wawancara mendalam untuk memperoleh informasi luas mengenai hal-hal yang umum dari obyek penelitian. Informasi dari sejumlah responden di analisis untuk memperoleh hal-hal yang menonjol, menarik, penting dan berguna bagi penelitian selanjutnya secara mendalam. Informasi seperti itulah yang selanjutnya digunakan sebagai fokus penelitian.[22]

3.      Tahap Eksplorasi


Pada tahap ini, fokus penelitian lebih jelas sehingga dapat dikumpulkan data yang lebih terarah dan spesifik. Observasi ditujukan pada hal-hal yang dianggap ada hubungannya dengan fokus. Wawancara lebih berstruktur dan mendalam (dept interview) sehingga informasi yang mendalam dan bermakna dapat diperoleh.[23]



H.    TEHNIK PENGUMPULAN DATA


Pengumpulan data adalah suatu proses pengadaan data primer untuk keperluan penelitian. Pengumpulan data adalah langkah yang amat penting dalam metode ilmiah, karena pada umumnya data yang dikumpulkan digunakan untuk menguji hipotesa yang sudah dirumuskan.[24]

Dalam penelitian ini, pengumpulan data akan dilakukan langsung oleh peneliti dalam situasi yang sesungguhnya. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini yang digunakan adalah data dokumentasi, wawancara mendalam yang berhubungan dengan data yang diperlukan dan observasi.

Dokumentasi

Penggunaan data dokumentasi dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi yang berhubungan dengan data-data tentang berbagai hal yang berhubungan dengan Budaya komunikasi masyarakat madura khususnya di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dari segi penggunaan bahasa serta Latar belakang penggunaan Bahasa tersebut Seperti peta wilayah, foto-foto dokumenter aktivitas masyarakat madura khususnya di desa Karang Geger. Teknik dokumentasi ini juga digunakan untuk mendapatkan informasi dan data-data sekunder yang berhubungan dengan fokus penelitian.

Wawancara

Sedangkan penggunaan wawancara mendalam (dept interview) dalam penelitian ini adalah untuk mendapatkan data primer dari subyek penelitian dengan cara wawancara mendalam yang tidak berstruktur, dengan pertimbangan supaya dapat berkembang sesuai dengan kepentingan penelitian.

3.      Observasi


Metode ini menggunakan pengamatan atau penginderaan langsung terhadap suatu benda, kondisi, situasi, proses atau perilaku. Pengumpulan data dengan menggunakan alat indera dan diikuti dengan pencatatan secara sistematis terhadap gejala-gejala/fenomena yang diteliti.[25]

Observasi dilakukan bila belum banyak keterangan yang dimiliki tentang masalah yang diselidiki. Dari hasil observasi, dapat diperoleh gambaran yang lebih jelas tentang masalahnya dan mungkin petunjuk-petunjuk tentang cara memecahkan.[26]

Penggunaan metode observasi dalam penelitian ini, sesuai yang di kemukakan oleh Blak dan Champion (1999: 286-287), antara lain: pertama,  untuk mengamati fenomena sosial-keagamaan sebagai peristiwa aktual yang memungkinkan peneliti memandang fenomena tersebut sebagai proses;

kedua, untuk menyajikan kembali gambaran dari fenomena sosial-keagamaan dalam laporan penelitian dan penyajiannya; dan ketiga, untuk melakukan eksplorasi atas setting sosial di mana fenomena itu terjadi. Sementara H.B. Sutopo (1997:10-11), mengemukakan bahwa teknik observasi digunakan untuk menggali data dari sumber data yang berupa peristiwa, tempat, lokasi dan benda serta rekaman gambar.

Observasi dapat dilakukan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Observasi langsung dapat mengambil peran maupun tidak berperan. Spradley (1980), menjelaskan bahwa peran peneliti dalam metode observasi dapat dibagi menjadi: (1). Tak berperan sama sekali, (2). Berperan aktif, (3). Berperan pasif, dan (4). Berperan penuh, dalam arti peneliti benar-benar menjadi warga atau anggota kelompok yang sedang diamati.[27]


I.       TEHNIK ANALISIS DATA


Definisi analisis data, banyak dikemukakan oleh para ahli metodologi penelitian. Berikut ini adalah definisi analisis data yang dikemukakan oleh para ahli metodologi penelitian tersebut, yang terdiri dari :

1.      Menurut Bogdan dan Taylor (1971), analisis data adalah proses yang merinci usaha formal untuk menemukan tema dan merumuskan hipotesis (ide) seperti yang disarankan oleh data dan sebagai usaha untuk memberikan bantuan pada tema dan hipotesa itu.

2.      Menurut Lexy J. Moleong (2002), analisis data adalah proses mengorganisasikan dari mengurutkan data ke dalam pola, kategori dan satuan uraian dasar, sehingga dapat ditemukan tema dan dapat dirumuskan hipotesis kerja seperti yang disarankan oleh data.

Dari pengertian di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa, analisis data adalah rangkaian kegiatan penelaahan, pengelompokan, sistematisasi, penafsiran, dan verifikasi data agar sebuah fenomena memiliki nilai sosial, akademik dan ilmiah.[28]

Analisis data penelitian bersifat berkelanjutan dan dikembangkan sepanjang program. Analisis data dilaksanakan mulai penetapan masalah, pengumpulan data dan setelah data terkumpulkan.  Dengan menetapkan masalah penelitian, peneliti sudah melakukan analisis terhadap permasalahan tersebut dalam berbagai perspektif teori dan metode yang digunakan yakni metode alir.

Analisis dalam penelitian ini terdiri dari tiga alur kegiatan yang terjadi secara bersamaan   (Matthew B.Miles dan A Michael Huberman,1992: 16 – 17).Tahap analisis data dalam penelitian kualitatif secara umum di mulai sejak pengumpulan data 1) reduksi data,yang diartikan sebagai proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan – catatan tertulis di lapangan; 2) penyajian data (display data) dilakukan dengan menggunakan bentuk teks naratif dan 3) penarikan kesimpulan serta verifikasi.[29]

Teknik analisis data dalam penelitian ini, dilakukan setelah data-data diperoleh melalui teknik wawancara mendalam dan observasi. Kemudian data-data tersebut, di analisis secara saling berhubungan untuk mendapatkan dugaan sementara, yang dipakai dasar untuk mengumpulkan data berikutnya, lalu dikonfirmasikan dengan informan secara terus menerus secara triangulasi.



J.      TEHNIK KEABSAHAN DATA


Teknik keabsahan data yang digunakan dalam penelitian ini, seperti yang dirumuskan ada tiga macam yaitu, antara lain :

1.       Perpanjangan Keikutsertaan


Keikutsertaan peneliti sangat menentukan dalam pengumpulan data. Keikutsertaan tersebut tidak hanya dilakukan dalam waktu singkat, tetapi memerlukan perpanjangan keikutsertaan peneliti pada latar penelitian.[30] Dalam konteks ini, dalam upaya menggali data atau informasi yang berkaitan dengan permasalahan penelitian, peneliti selalu ikut serta dengan informan utama dalam upaya menggali informasi yang berkaitan dengan fokus penelitian. Misalnya peneliti selalu bersama informan utama dalam melihat lokasi penelitian.

2.      Ketekunan Pengamatan


Ketekunan pengamatan dilakukan dengan maksud menemukan ciri-ciri dan unsur-unsur dalam situasi yang relevan atau isu yang sedang dicari dan kemudian memusatkan diri pada hal-hal tersebut secara rinci.[31]

Dalam konteks ini, sebelum mengambil pembahasan penelitian, peneliti telah melakukan pengamatan terlebih dahulu secara tekun dalam upaya menggali data atau informasi untuk di jadikan obyek penelitian dalam rangka memenuhi persyaratan untuk meraih gelar S-1, yang pada akhirnya peneliti menemukan permasalahan yang menarik untuk dibedah, yaitu masalah Budaya komunikasi Masyarakat madura khususnya di Desa Karang Geger Kecamatan Pajarakan Kabupaten Probolinggo dari segi penggunaan bahasa serta simbol-simbol yang mereka gunakan dalam berkomunikasi

Triangulasi


Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu. Denzin (1978), membedakan empat macam triangulasi sebagai teknik pemeriksaan yang memanfaatkan penggunaan sumber, metode, penyedik dan teori.[32]

Validitas dan objektivitas   merupakan persoalan fundamental dalam kegiatan ilmiah. Agar data yang diperoleh peneliti memiliki validitas dan objektivitas   yang tinggi, diperlukan beberapa persyaratan yang diperlukan.

Berikut ini akan peneliti kemukakan metode yang digunakan untuk meningkatkan validitas dan objektivitas   suatu penelitian, terutama dalam penelitian kualitatif. Robert K. Yin (1996), mensyaratkan adanya validitas design penelitian. Untuk itu, Paton (1984), menyarankan diterapkan teknik triangulasi sebagai validitas design penelitian.

Adapun teknik triangulasi yang peneliti pakai dalam penelitian ini adalah triangulasi data atau triangulasi sumber. Sebagaimana dikemukakan Yin, triangulasi data dimaksudkan agar dalam pengumpulan data, peneliti menggunakan multi sumber data. [33]

Dalam konteks ini, upaya yang dilakukan oleh peneliti dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data dalam pengecekan data yaitu dengan menggunakan sumber data dalam penggaliannya, baik itu sumber data primer yang berupa hasil wawancara maupun sumber data sekunder yang berupa buku, majalah dan dokumen lainnya.

Sedangkan metode atau cara yang digunakan dalam analisis data adalah metode analisis kualitatif. Artinya analisis kualitatif dilakukan dengan memanfaatkan data (kualitatif) dari hasil observasi dan wawancara mendalam, dengan tujuan memberikan eksplanasi dan pemahaman yang lebih luas atas hasil data yang dikumpulkan. Dan kemudian peneliti melakukan langkah membandingkan atau mengkorelasikan hasil penelitian dengan teori yang telah ada. Hal itu dilakukan untuk mencari perbandingan atau hubungan antara hasil penelitian dengan teori yang telah ada.


K.    SISTEMATIKA PEMBAHASAN


Dalam membahasa suatu penelitian diperlukan sistematika pembahasan yang bertujuan untuk memudahkan penelitian, langkah – langkah pembahasan sebagai berikut:

BAB I          :    Yaitu pendahuluan, pada bab ini terdiri atas enam sub bab antar lain  latar belakang masalah, rumusan masalah, maksud dan tujuan penelitian, manfaat penelitian, definisi konsep, dan sistematika pembahasan.

BAB II        :    Yaitu kajian pembahasan,pada bab ini terdiri dari dua sub bab, sub bab pertama yaitu pembahasan teori dan sub bab kedua yakni hasil penelitian yang relevan.

BAB III       :    Yaitu metode penelitian pada bab ini terdiri dari enam sub bab yaitu pendekatan dan jenis penelitian, jenis dan sumber data, tahap – tahap penelitian, teknik pengumpulan data, teknik analisis data dan teknik keabsahan data.

BAB IV       :    Yaitu penyajian data, yang terdiri dari dua sub bab yakni yang pertama deskripsi umum obyek penelitian dan sub bab kedua deskripsi hasil penelitian.

BAB V        :    Yaitu Analisis data dari dua sub bab, yang pertama sub bab yang mengupas tentang temuan dan sub bab kedua berisi tentang konfirmasi temuan dengan teori.

BAB VI       :    Yaitu penutup yang terdiri dari kesimpulan yang ditutup dengan saran.

DAFTAR PUSTAKA


Bahtiar, Wardi, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1987

Berger, Arthur Asa, Tanda-tanda dalam Kebudayaan  Kontemporer, terjemahan oleh M. Dwi Mariyanto, Sunarto, Jogyakarta, Tiara Wacana Yogja: 2000

Hasan Bisri, Cik dan Rufaida, Eva, Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2002

Iqbal Hasan, M., Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Cet. 1, Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002

Koencoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1981

Lexy, J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. 13 Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002

Lull, James, Media, Komunikasi dan Kebudayaan Jakarta, Yayasan Obor Indonesia :1998

Mulyana, Deddy, Komunikasi Antar Pribadi  Bandung, PT Remaja Rosda Karya:1990

Narbuko Cholid, & Achmadi, Abu, Metodologi Penelitian ,Jakarta, Bumi aksara, 1997

Nasution, S., Metode Research, Edisi 1 Bandung: Jemmars, 1982

Nazir, Moh., Metode Penelitian, Cet. IV Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999

Ritzer, George, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda Yogyakarta: Kanisius, 1992

Sobur, Alex, Semiotika Komunikasi, Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004

Suprayogo, Imam dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001

Uchajana, Onong, Dinamika Komunikasi, Bandung, PT Remaja Rosda Karya: 1993

[1] Onong Uchajana, Dinamika Komunikasi (Bandung, PT Remaja Rosda Karya: 1993) hal 3

[2] Deddy mulyana  dkk, Komunikasi Antar Pribadi  (Bandung, PT Remaja Rosda Karya:1990) hal 15

[3] James Lull, Media, Komunikasi dan Kebudayaan (Jakarta, Yayasan Obor Indonesia :1998) hal. 77



[4] Ibid

[5] Cholid Narbuko & Abu Achmadi, Metodologi Penelitian ,Jakarta, Bumi aksara ,1997, hal 140

[6] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004) hal. 194

[7] Arthur Asa Berger, Tanda-tanda dalam Kebudayaan  Kontemporer, terjemahan oleh M. Dwi Mariyanto, Sunarto, (Jogyakarta, Tiara Wacana Yogja: 2000) hal. 14

                [8] Alex Sobur, Semiotika Komunikasi (Bandung, Remaja Rosdakarya : 2004) hal. 199

[9] Koencoroningrat, Metode-Metode Penelitian Masyarakat, (Jakarta : Gramedia Pustaka Utama, 1981), h. 16.             

[10] Wardi Bahtiar, Metodologi Penelitian Ilmu Dakwah, (Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1987), h. 1

[11] George Ritzer, Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda (Yogyakarta: Kanisius, 1992), h.

[12] M. Iqbal Hasan, Pokok-pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, Cet. 1 (Jakarta: Ghalia Indonesia, 2002), h. 22.

[13] M. Iqbal Hasan, Pokok-Pokok Materi Metodologi Penelitian dan Aplikasinya, h. 22.

[14] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2001), h. 134.

[15]Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, Cet. 13 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2002), h. 122.

[16] Ibid h. 122.

[17] Ibid.

[18] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 113.

[19] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 86.

[20] Ibid

[21] Ibid

[22] Cik Hasan Bisri dan Eva Rufaida, Model Penelitian Agama dan Dinamika Sosial (Jakarta: Raja Gravindo Persada, 2002), h. 224.

[23] Ibid h. 224.

[24] Moh. Nazir, Metode Penelitian, Cet. IV (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1999), h. 211.

[25] Cholid Narbuko dan Abu Achmadi, Metodologi Penelitian, Cet. 1 (Jakarta: Bumi Aksara, 1997), h. 70.

[26] S. Nasution, Metode Research, Edisi 1 (Bandung: Jemmars, 1982), h. 131.         

[27] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 167. 

[28] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 192.

[29] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 192.

[30] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 175.

[31] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 177.

[32] Lexy J. Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, h. 178.

[33] Imam Suprayogo dan Tobroni, Metodologi Penelitian Sosial-Agama, h. 185.


CONTOH KETIGA PROPOSAL PENELITIAN KUALITATIF

oleh : Saliman (FPIPS IKIP Yogyakarta)I. JUDUL PENELITIANKontribusi Dana IDT dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat Desa Sidomulyo,
Kecamatan Purworejo, Kabupaten Purworejo.



II. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pemikiran awal yang mendasari studi ini adalah sudah banyak Strategi Pembangunan
yang dilaksanakan oleh Pemerintah dalam rangka mengentaskan kemiskinan dan
mengurangi kesenjangan sosial, akan tetapi berbagai laporan menunjukkan
kekurangberhasilan strategi tersebut. 


Hal ini dapat dimaklumi, karena pada umumnya
strategi tersebut sasarannya adalah pembangunan fisik sarana dan prasarana desa dengan
tujuan membuka isolasi dan demi memacu mobilitas ekonomi suatu kawasan, sehingga
yang dapat merasakan bantuan tersebut hanya sebagian kecil masyarakat saja. Sementara
masyarakat kelas marjinal semakin jauh tertinggal.


Sebenarnya pembangunan desa dapat meningkatkan taraf hidup masyarakat desa,
jikalau pembangunan tersebut memperhatikan potensi desa yang ada dan mendasarkan
pada kebutuhan masyarakat desa. 


Akan lebih baik lagi kalau semuanya itu dilaksanakan
secara terpadu (integral), seperti diungkapkan oleh Taliziduhu Ndraha sebagai berikut:
“... pembangunan desa meninggikan taraf penghidupan masyarakat desa dengan jalan
melaksanakan pembangunan yang integral daripada masyarakat desa, berdasarkan
azas kekuatan sendiri daripada masyarakat desa serta azas permufakatan bersama
antara anggota-anggota masyarakat desa dengan bimbingan serta bantuan alat-alat
pemerintah yang bertindak sebagai suatu keseluruhan (kebulatan) dalam rangka
kebijaksanaan umum yang sama” (1986:3).


Berdasarkan pendapat di atas maka dapat kita ketahui bahwa keberhasilan
pembangunan desa tidak akan terlepas dari perhatian dan bantuan pemerintah. 


Sebenarnya perhatian pemerintah dalam pembangunan desa sampai saat ini boleh dikatakan sudah
cukup besar. Penegasan pemerintah mengenai hal ini telah dituangkan dalam ketetapan

MPR Nomor II/MPR/1998 tentang Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN) yang
menyatakan:


Pembangunan desa dan masyarakat pedesaan terus didorong melalui peningkatan
koordinasi dan peningkatan pembangunan sektoral, pengembangan kemampuan
sumber daya manusia, pemanfaatan sumber daya alam dan penumbuhan iklim yang
mendorong tumbuhnya prakarsa dan swadaya masyarakat sehingga mempercepat
peningkatan perkembangan desa swadaya dan desa swakarsa menuju desa
swasembada (1998:85-86).


Berbagai strategi pembangunan pedesaan telah ditempuh oleh Indonesia seiring
dengan bergulirnya waktu, tetapi keterbelakangan, kemiskinan dan ketertinggalan masih
menjadi teman setia dari sebagian desa di wilayah Indonesia. 


Melihat kenyataan ini maka pada awal PJP II, pemerintah menerapkan strategi pembangunan baru untuk mengatasi kondisi tersebut di atas. Strategi tersebut adalah “Strategi pertumbuhan dan sekaligus pemerataan dan penanggulangan kemiskinan” (growth-cum-poverty alleviation and social
equity
). 

Kebijaksanaan ini dilaksanakan dengan dua acuan yaitu: pertama, kebijaksanaan
ekonomi makro yang berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, sebagai payung dari
kebijaksanaan yang kedua, yaitu kebijaksanaan mikro yang akan mewujudkan pemerataan
dan penanggulangan kemiskinan melalui intervensi langsung (
direct attack) Moeljarto
(1996:120)


Kebijaksanaan-kebijaksanaan tersebut diberlakukan secara
general pada setiap desa
baik yang telah mencapai kategori desa maju maupun yang masih dalam kategori desa
terbelakang. Namun ada kebijaksanaan yang benar-benar diberikan pada desa yang masuk
pada kategori desa terbelakang, yang dalam hal ini diistilahkan sebagai “Desa Tertinggal”.

Untuk mempercepat pelaksanaan pembangunan pada desa-desa yang masuk kategori desa
tertinggal, pemerintah telah memberikan bantuan yang cukup besar dalam paket program
yang bernama “Inpres Desa Tertinggal” yang selanjutnya lebih dikenal dengan IDT. Paket
tersebut berupa suntikan dana segar sebesar Rp 20.000.000,00 (dua puluh juta rupiah)
setiap tahunnya untuk setiap desa selama empat kali, yang pengelolaannya diserahkan
sepenuhnya pada aparat di tingkat desa dengan pengawasan langsung dari Camat
setempat.


Dengan suntikan dana segar yang pemanfaatannya diserahkan sepenuhnya pada
manajemen desa tersebut, maka Kepala Desa beserta masyarakatnya akan lebih leluasa

dalam membangun desanya. Sehingga secara logika akselerasi pembangunan akan segera
terwujud dan pada akhirnya akan mencapai kesejahtaraan seluruh warga desa. Hal ini
berarti pemerataan hasil-hasil pembangunan sesuai dengan amanat GBHN 1998 akan
segera terwujud.



B. Perumusan Masalah

Dari latar belakang di atas, selanjutnya rumusan masalah yang akan diteliti adalah:
1. Adakah latar belakang budaya yang menyebabkan kemiskinan masyarakat ?
2. Adakah latar belakang tipologi wilayah yang menyebabkan kemiskinan ?
3. Mampukah bantuan dana IDT memberdayakan aktivitas ekonomi masyarakat miskin ?
4. Bagaimana keberhasilan pembangunan pada desa setelah mendapatkan dana IDT ?
5. Bagaimana model pemberdayaan ekonomi masyarakat desa tersebut ?

C. Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui kemungkinan adanya latar belakang budaya yang menyebabkan
kemiskinan.
2. Untuk mengetahui kemungkinan adanya latar belakang tipologi wilayah yang
menyebabkan kemiskinan.
3. Untuk mengetahui kontribusi dana IDT dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
4. Untuk mengetahui keberhasilan pembangunan desa setelah mendapat dana IDT.
5. Untuk mencari suatu model pemberdayaan ekonomi masyarakat.

D. Kegunaan Penelitian

1. Bagi Pemerintah
Sebagai masukan bagi pemerintah baik di tingkat daerah maupun di tingkat pusat untuk
mengevaluasi kebijaksanaannya, apakah perlu diteruskan atau diberhentikan sampai di
sini.
2. Bagi Peneliti
Untuk memperluas wawasan tentang strategi pemerintah dalam mengentaskan
kemiskinan, dan sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister Pendidikan pada
Program Studi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial PPS IKIP Yogyakarta.
3. Bagi IKIP Yogyakarta

Untuk menambah koleksi hasil-hasil penelitian, khususnya yang menyangkut
kebijaksanaan Inpres Desa Tertinggal.

E. Fokus Penelitian

Fokus awal penelitian ini sebagai jembatan peneliti menjaring data di lapangan adalah
sebagai berikut:
1. Bagaimana karakteristik dari wilayah desa Sidomulyo ?
2. Bagaimana karakteristik masyarakat miskin desa Sidomulyo, terutama pola hidup dan
aktivitas ekonominya ?
3. Bagaimana pengorganisasian POKMAS IDT ?
4. Bagaimana aktivitas ekonomi POKMAS IDT ?
5. Bagaimana perkembangan modal POKMAS IDT ?
6. Bagaimana perkembangan modal anggota POKMAS IDT ?
7. Bagaimana peran pendamping desa IDT ?

III. CARA PENELITIAN

A. Subyek Penelitian.

Untuk menentukan subyek penelitian supaya dapat menjaring informasi yang memadai
agar dapat menemukan suatu model pemberdayaan ekonomi masyarakat, maka semua
informasi akan digali langsung dari anggota POKMAS IDT, dengan menggunakan
metode
Snow Balling

Dengan cara sebagai berikut: setelah syarat administratif terpenuhi untuk melakukan penelitian, peneliti akan menghubungi kepala desa sebagai key informant melalui dua orang guru SD setempat yang telah peneliti kenal baik sebelumnya sebagai guide person. Selanjutnya akan dihubungi perangkat desa yang mengetahui secara lengkap tentang pelaksanaan IDT, seterusnya para ketua RT yang warganya termasuk anggota POKMAS IDT dan akhirnya POKMAS IDT beserta
anggotanya. Perubahan selama ada di lapangan sangat dimungkinkan selaras dengan
perkembangan permasalahan yang terjadi.



B. Setting Penelitian

Untuk memudahkan memasuki setting penelitian, maka peneliti mula-mula akan
berkenalan secara umum melalui forum rembug desa yang telah ada di desa tersebut
melalui
key informant. Selanjutnya kepada calon subyek penelitian akan diadakan
pendekatan secara pribadi melalui Guide person. Setelah kehadiran peneliti dirasa telah
diterima dengan baik, barulah akan memulai mengumpulkan data yang diperlukan,
tentunya dengan tetap membina hubungan baik yang telah terjalin.

C. Teknik Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam mengumpulkan data pada penelitian ini adalah: teknik
utama digunakan
indeph interview, sebagai pendukung digunakan observasi dan analisis
dokumen.

D. Analisis Data

Pola analisis data yang akan digunakan adalah etnografik, yaitu dari catatan lapangan
(
field note) kemudian akan dilakukan pengkodean, kategorisasi atau klasifikasi kemudian
disusun secara sistematis dan selanjutnya akan disusun tema-tema berdasarkan hasil
analisis data tersebut. Sebagai bahan pijakan sekaligus pisau analisis bila perlu digunakan
teori-teori yang relevan dan hasil penelitian terdahulu yang mendukung.

D. Keabsahan Data

Untuk menghindari kesalahan data yang akan di analisis, maka keabsahan data perlu
diuji dengan beberapa cara sebagai berikut:
1. Pengumpulan data secara terus menerus pada subyek penelitian yang sama.
2. Triangulasi pada sumber lain yang dapat dipertanggungjawabkan, dan bila perlu
3. Pengecekan oleh subyek penelitian.

Daftar Pustaka

(tidak perlu) 


0 Response to "3 Contoh Proposal Penelitian Kualitatif"

Post a Comment

Disclaimer: Gambar ataupun video yang ada di situs ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel