PROPOSAL PENELITIAN PEMBINAAN AKHLAK


PROPOSAL PENELITIAN PEMBINAAN AKHLAK



A. Judul

PEMBINAAN AKHLAK SISWA MELALUI ‘BENGKEL IMAN’ SEBAGAI UPAYA PEMBENTUKAN KARAKTER RELIGIUS DI SMA NEGERI 1 BESUKI SITUBONDO TAHUN PELAJARAN 2017/2018

B. Latar Belakang 

Problem kemerosotan akhlak banyak menjangkiti generasi muda. Gejala kemerosotan akhlak antara lain diindikasikan dengan merebaknya kasus peyalahgunaan narkoba , pergaulan bebas, kriminalitas, kekerasan dan aneka perilaku kurang terpuji lainnya. Sering melihat  di televisi banyak sekali pemberitaan-pemberitaan tentang kerusakaan akhlak masyarakat. Dilain pihak, tak sedikit dari generasi muda yang gagal menampilkan akhlak  terpuji (akhlaq mahmudah)  sesuai harapan orang tua. Sehingga untuk mengatasi segala permasalahan akhlak diatas haruslah dilakukan pembinaan akhlak sejak dini.

Berbicara masalah pembinaan akhlak sama dengan berbicara tentang tujuan pendidikan, karena banyak sekali dijumpai pendapat para ahli yang mengatakan bahwa tujuan pendidikan adalah pembinaan akhlak. Muhammad Athiyah al- abrasyi misalnya mengatakan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak adalah jiwa  dan tujuan pendidikan Islam. 

Demikian pula Ahmad D Marimba sebagaimana dikutip oleh Abudin Nata, berpendapat tujuan utama pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk agama Islam.  

Begitupun menurut Al-Ghazali dalam Rusn. Menurut Al-Ghazali orang dapat mendekatkan diri kepada Allah hanya setelah memperoleh ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itu sendiri tidak akan dapat diperoleh manusia kecuali melalui pengajaran.  Selanjutnya dari pendapat Al-Ghazali diatas dapat dipahami bahwa pembinaan dan pembentukan akhlak dapat dilakukan melalui pendidikan.

Selaras dengan pendapat para ahli pendidikan diatas,  tujuan pendidikan nasional yang berasal dari berbagai akar budaya bangsa Indonesia terdapat dalam UU No. 20 tahun 2003 yaitu “Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab” 

Melihat tujuan dari pendidikan diatas memang sudah seharusnya pendidikan kita menghasilkan generasi yang berakhlak dan berkarakter. Generasi yang menjadikan Al-Qur’an dan Hadits sebagai pedoman hidupnya dan juga menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan baginya, baik dalam aspek beribadah maupun aspek bersosial. Seperti yang telah dijelaskan pada hadits berikut:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ : قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى الله عَلَيْهِ وسلم :إِنَّمَا بُعِثْتُ لِاُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلَاقِ {رواه أحمد}

Artinya: diriwayatkan dari Abi Hurairah, Rasulullah bersabda “ sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak”(HR. Ahmad)

Hadis di atas menjelaskan bahwa ajaran akhlak yang dibawa Nabi Muhammad berupa tiga hal, yaitu: iman, Islam, dan ihsan. Ketiganya merupakan proses yang kontinu yang hendaknya dilakukan seorang Muslim. Ini semua tidak hanya merupakan kewajiban bagi seorang Muslim, tetapi juga merupakan pendidikan yang dilakukan seumur hidup guna membentuk akhlak yang baik terhadap Allah swt dan sesama makhluk.

Maka usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan.  Hal ini harus terus dilakukan agar generasi muda di Negara kita menjadi generasi yang  berkarakter  Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia.  

Keadaan sebaliknya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak dibina akhlaknya, atau dibiarkan tanpa bimbingan, arahan dan pendidikan, ternyata menjadi anak-anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela dan seterusnya. Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina.

Namun ada yang sedikit berbeda dengan metode pembinaan akhlak yang digunakan di SMA Negeri 1 Besuki, berbeda dengan sekolah lainnya yang hanya lebih banyak menitik beratkan pendalaman pendidikan agama Islam dalam pembinaan akhlak siswanya dengan menggunakan metode reward dan punishment saja. 

SMA Negeri 1 Besuki memiliki ‘bengkel iman’ sebuah program andalan sebagai metode pembinaan akhlak para siswanya agar siswanya selalu berada dalam situasi yang terkendali tidak menyimpang dan memiliki karakter religius. 

Dari latar belakang itulah, maka peneliti tertarik untuk meneliti hal tersebut secara lebih jauh lagi  dengan mengangkat sebuah judul Pembinaan Akhak Siswa Melalui ‘Bengkel Iman’ Sebagai Upaya Pembentukan Karakter Religius Di SMA Negeri  Besuki Situbondo Tahun Pelajaran 2017/2018


C. Fokus Penelitian

Perumusan masalah dalam penelitian kualitatif disebut dengan istilah fokus penelitian. Bagian ini mencantumkan semua fokus permasalahan yang akan dicari jawabannya melalui  proses penelitian  
Adapun masalah-masalah dalam penelitian ini difokuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pelaksanaan pembinaan akhlak melalui ‘bengkel iman’sebagai upaya pembentukan siswa religius nilai ilahiyah (hablum minallah) di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo tahun ajaran 2017/2018?

2. Bagaimana pelaksanaan pembinaan akhlak melalui ‘bengkel iman’sebagai upaya pembentukan siswa religius nilai insaniyah (hablum minan nas) di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo tahun ajaran 2017/2018?


D. Tujuan Penelitian 

Tujuan penelitian merupakan gambaran tentang arah yang dituju dalam melakukan penelitian. Tujuan penelitian harus mengacu kepada masalah-masalah yang telah dirumuskan sebelumnya.  Adapun tujuan dari penelitian ini antara lain:

1. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembinaan akhlak melalui ‘bengkel iman’sebagai upaya pembentukan siswa religius nilai ilahiyah (hablum minallah) di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo tahun ajaran 2017/2018.

2. Untuk mendeskripsikan pelaksanaan pembinaan akhlak melalui ‘bengkel iman’sebagai upaya pembentukan siswa religius nilai insaniyah (hablum minannas) di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo tahun ajaran 2017/2018.s

E. Manfaat Penelitian 

Manfaat penelitian ini berisi tentang kontribusi apa yang akan diberikan setelah selesai melakukan penelitian.  Adapun manfaat penelitian ini antara lain:

1. Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan konstribusi dan sumbangsih pemikiran guna memperkaya khasanah keilmuan dalam bidang pendidikan terutama untuk metode pembinaan akhlak siswa dan pembentukan karakter religius.

2. Manfaat Praktis

a. Bagi peneliti

1) Hasil penelitian ini merupakan pengalaman awal yang memberikan nuansa tersendiri bagi peneliti dalam upaya pengembangan diri, khususnya dalam dimensi akademik.

2) Menjadikan salah satu tolak ukur kemampuan berfikir peneliti dalam merespon fenomena sosial yang terjadi.

3) Penelitian ini juga dimanfaatkan oleh peneliti dalam upaya memenuhi persyaratan menyelesaikan tugas akhir perkuliahan di IAIN Jember.

b. Bagi lembaga yang diteliti 
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan bagi sekolah sebagai acuan dan bahan pertimbangan untuk meningkatkan kualitas pendidikan agar tujuan pendidikan dapat terwujud. Terutama tujuan pendidikan mengenai akhlak dan karakter siswa.

c. Bagi IAIN Jember
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahasan informasi ilmu pengetahuan yang aktual serta menambah wawasan mengenai pembinaan akhak siswa dan upaya pembentukan karakter religius lainnya.

d. Bagi masyarakat 
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai informasi yang aktual dan dapat menambah wawasan serta kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pembinaan akhlak dan pembentukan karakter pada siswa.

F. Definisi Istilah

Definisi istilah berisi tentang pengertian-pengertian penting yang menjadi titik perhatian peneliti dalam judul penelitian. Tujuannya agar tidak terjadi kesalah pahaman terhadap makna istilah sebagaimana dimaksud oleh peneliti.  Untuk memberikan arah serta menghindari timbulnya kesalah pahaman dalam menginterpretasikan isi dari tulisan ini, maka peneliti terlebih dahulu akan menjelaskan arti dari masing-masing kata yang mendukung judul ini. Adapun arti dari masing-masing kata tersebut terdiri dari:

1. Pembinan Akhlak 
Menurut kamus besar bahasa Indonesia pembinaan adalah proses, pembuatan, cara membina, penyempurnaan, usaha atau tindakan, atau kegiatan yang berdaya guna dan berhasil guna memperoleh hasil yang baik.  Pembinaan merupakan suatu proses yang membantu individu melalui usaha sendiri dalam rangka menemukan dan mengembangkan kemampuannya agar memperoleh kebahagiaan pribadi dan kemanfaatan social.  

Sedangkan akhlak menurut bahasa (etimologi) adalah bentuk jamak dari Khuluq yang berarti budi pekerti, perangai, tingkah laku, tabiat.  Menurut Imam Al-ghaali dalam buku Abidin ibn Rusyd Akhlak ialah suatu sikap yang mengakar dalam jiwa darinya lahir berbagai perbuatan dengan mudah dan gampang, tanpa perlu pemikiran dan pertimbangan. Jika sikap itu darinya lahir perbuatan yang baik dan terpuji, baik dari segi akal dan syarat, maka ia di sebut akhlak yang baik dan jika yang lahir darinya perbuatan tercela maka sikap tersebut disebut akhlak yang buruk.  

Jadi pembinaan akhlak disini dapat diartikan sebagai sebuah usaha untuk memperbaiki dan mencegah seseorang dari periaku menyimpang sehingga mereka dapat membedakan perilaku yang baik dan buruk, yang boleh dilakukan ataupun yang tidak boleh dilakukan.  
2. Bengkel Iman 
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, bengkel adalah tempat (bangunan) untuk perawatan/pemeliharaan, perbaikan, modifikasi alat dan mesin.  Sedangkan iman adalah kepercayaan atau keyakinan hati. Jadi bengkel iman adalah pemeliharaan iman manusia yang sedikit melenceng dari arah agama kita yaitu agama Islam.

Adapun maksud dari bengkel iman dari penelitian ini adalah nama program sekolah SMAN 1 Besuki untuk memberikan bimbingan agama kepada para siswa siswinya.

3. Pembentukan karakter religius
Karakter dalam kamus besar bahasa Indonesia berarti bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, dan watak. Sedangkan berkarakter berarti berkepribadian, berperilaku, bersifat, bertabiat, dan berwatak. 

Sedangkan pembentukan karakter adalah pendidikan untuk membentuk kepribadian seseorang melalui pendidikan budi pekerti yang hasilnya terlihat dalam tindakan nyata seseorang yaitu tingkahlaku yang baik, jujur, bertanggung jawab, menghormati hak orang lain, kerja keras dan sebagainya.  

Sedangkan religius sendiri dalam kamus berarti bersifat keagamaan. sedangkan menurut Mustari religius adalah nilai karakter dalam hubungan dengan tuhan. Ia menunjukkan bahwa pikiran, perkataan, dan tindakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan ajaran agama.   

Sehingga yang dimaksud pembentukan karakter religius dalam penelitian ini adalah segala usaha yang dilakukan guna merubah karakter seorang siswa agar segala tindakannya berdasarkan ajaran-ajaran agama.

Sesuai dengan definisi-definisi istilah sebagaimana yang peneliti ungkapkan diatas, maka yang peneliti maksud tentang pembinaan akhak siswa melalui ‘bengkel iman’ sebagai upaya pembentukan karakter religius, membahas tentang suatu program pembinaan akhlak yang berisikan beberapa kegiatan yang diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pembentukan karakter religius siswa, memiliki akhlak yang baik bukan hanya terhadap sang khalik, melainkan juga terhadap makhluk ciptaan-Nya.  

G. Kajian Kepustakaan

1. Penelitian Terdahulu
a. Imroatus Soleha, 2016, dengan judul skripsi Pembinaan Akhlak Remaja Melalui Kegiatan Character Building di Desa Tanah Wulan Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso Tahun 2016.
b. Uswatun Hasanah, 2016, dengan judul skripsi Pembinaan Akhlak Siswa Melalui Kegiatan Keagamaan di Sekolah Dasar Negeri Silo 03 Kecamatan Silo Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2016/2017.
c. Moh. Hollan Bin Umar, 2016, dengan judul skripsi Pembinaan Akhlak Sisa Berbasis Pesantren di Madrasan Tsanawiyah Unggulan Nurul Islam Jember Tahun Ajaran 2015/2016 

Tabel 1.1
Persamaan dan Perbedaan Penelitian


No Nama peneliti dan judul penelitian Persamaan Perbedaan Hasil penelitian
1. Imroatus Soleha, 2016, Dengan Judul Skripsi Pembinaan Akhlak Remaja Melalui Kegiatan Character Building Di Desa Tanah Wulan Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso a. Pembinaan akhlak
b. Menggunakan metode kualitatif deskriptif
c. Menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi a. Fokus Penelitian : Fokus pada bagaimana pembinaan akhlak remaja muslimah melalui character building Desa Tanah Wulan Kecamatan Maesan Kabupaten Bondowoso Tahun 2016 a. Hasil penelitian: perencanaan dan pelaksanaan pembinaan akhlak remaja muslimah melalui character building dilakukan oleh kepala desa dan para ustadzah termasuk penentuan tempat, materi dan waktu.
2. Uswatun Hasanah, 2016, dengan judul skripsi Pembinaan Akhlak Siswa Melalui Kegiatan Keagamaan di Sekolah Dasar Negeri Silo 03 Kecamatan Silo Kabupaten Jember 
a. Pembinaan akhlak
b. Menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi a. Fokus penelitian: fokus pada  bagaimana pembinaan akhlak siswa kepada allah dan kepada manusia melalui kegiatan keagamaan di  SDN Silo 03 kecamatan Silo Kabupaten Jember Tahun Pelajaran 2016/2017 Hasil penelitian: pembinaan akhlak kepada Allah dan kepada manusia melalui kegiatan keagamaan yang dilakukan dengan adanya kegiatan keagamaan dapat meningkatkan ketaqwaan kepada Allah seperti shalat dhuha, dan membaca Al-qur’an belum sepenuhnya maksimal. 
3. Moh. Hollan Bin Umar, 2016, dengan judul skripsi Pembinaan Akhlak Siswa Berbasis Pesantren di Madrasan Tsanawiyah Unggulan Nurul Islam Jember 
a. Pembinaan akhlak siswa
b. Menggunakan metode kualitatif deskriptif
c. Menggunakan teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi a. Fokus penelitian: terfokus pada bagaimana pembinaan akhlak siswa siswi Madrasah Tsanawiyah berbasis pesantren di MTs unggulan Nurul Islam Jember. Hasil penelitian: untuk mencapai visi dan misi pesantren dalam membentuk akhlak siswa maka dilakukanlah beberapa kegiatan pesantren yang dapat menanamkan akhlak dasar dalam kehidupan sehari-hari serta memberikan uswatun hasanah dalam setiap sisi kehidupan siswa siswi.

2. Kajian Teori
a. Tinjauan Tentang Pembinaan Akhlak  

Berbicara tentang akhlak yang dapat dibina atau tidak,  maka disini ada beberapa pendapat para ahli. Menurut sebagin ahli akhlak tidak perlu dibina dn dibentuk, karena akhlak adalah insting (Gharizah) yang dibawa manusia sejak lahir.  

Bagi golongan ini bahwa masalah akhlak adalah pembawaan dari manusia sendiri, yaitu kecenderungan kepada kebaikan atau fitrah yang ada dalam diri manusia, dan dapat juga berupa kata hari atau instuisi yang  selalu cenderung kepada kebenaran. Dengan pandangan seperti ini, maka akhlak akan tumbuh dengan sendirinya, walaupun tanpa dibentuk, dibina atau diusahakan. 

Selanjutnya ada pula pendapat yang mengatakan bahwa akhlak hasil dari pendidikan, latihan, pembinaan dan perjuangan keras dan sungguh-sungguh. Kelompok yang mendukung pendapat yang kedua ini umumnya datang dari Ulama-ulama Islam yang cenderung pada akhlak seperti ibnu Miskawih, Ibn Sina, Al-ghazali yang mengatakan bahwa akhlak adalah hasil usaha (muktasabah). 

Pada kenyataan di lapangan, usaha-usaha pembinaan akhlak melalui berbagai lembaga pendidikan dan melalui berbagai macam metode terus dikembangkan. 

Ini menunjukkan bahwa akhlak memang perlu dibina, dan pembinaan ini ternyata membawa hasil berupa terbentuknya pribadi-pribadi muslim yang berakhlak mulia, taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hormat kepada ibu bapak, sayang kepada sesame makhluk tuhan dan seterusnya. Sebaliknya keadaan sebaliknya juga menunjukkan bahwa anak-anak yang tidak dibina akhlaknya, atau dibiarkan menjadi anak yang nakal, mengganggu masyarakat, melakukan berbagai perbuatan tercela dan seterusnya.

Ada beberapa metode pembinaan akhlak yang dapat dilakukan sesuai dengan perspektif Islam yaitu sebagai berikut: 

1) Metode Uswah (Teladan)
Yaitu sesuatu yang pantas untuk diikuti, karena mengandung nilai-nilai kemanusiaan. Manusia teladan yang harus dicontoh dan diteladani adalah Rasulullah SAW. Aplikasi metode teladan, diantaranya adalah tidak menjelek-jelekkan seseorang, menghormati orang lain, membantu orang yang membutuhkan pertolongan, berpakaian sopan, tidak berbohong, tidak berjanji mungkir, dan lain-lain. Yang paling penting orang yang diteladani, harus berusaha berprestasi dalam bidang tugasnya. 

2) Metode Ta’widiyah (Pembiasaan)
Muhammad Mursyi dalam bukunya “seni mendidik anak”, menyampaikan nasihat Imam Ghazali: “seorang anak adalah amanah (titipan) bagi orang tuanya, hatinya sangat bersih bagaikan mutiara, jika dibiasakan dan diajarkan sesuatu kebaikan, maka ia akan tumbuh dewasa dengan tetap melakukan kebaikan tersebut, sehingga ia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat.” Dalam ilmu jiwa perkembangan, dikenal teori konvergensi, dimana pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya, dengan mengembangkan potenssi dasar yang ada padanya. 

Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan potensi dasar tersebut, adalah melalui kebiasaan yang baik. Oleh karena itu, kebiasaan yang baik dapat menempa pribadi yang berakhlak mulia. Seperti  terbiasa dalam keadaan berwudhu, terbiasa tidur tidak terlalu larut malam, dan bangunnya tidak kesiangan, terbiasa membaca Al-Qur’an dan asma’ul husna, shalat berjamaah di masjid/mushalla, terbiasa makan dengan tangan kanan, dan lain-lain sebagainya.

3) Metode Mau’izzah (Nasehat)
Yaitu kata mau’izzah berasal dari kata wa’zhu, yang berarti nasehat yang terpuji, memotivasi untuk melaksanakannya dengan perkataan yang lembut.

Artinya: .... “Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian”.....

Sebagai contoh metode nasehat yang baik yaitu, nasehat dengan argumen logika, nasehat tentang keuniversalan Islam, nasehat yang berwibawa, nasehat tentang “amar ma’ruf nahi mungkar”, nasehat tentang amal ibadah, dan lain-lain. Namun yang paling penting lagi pemberi nasehat harus mengamalkan terlebih dahulu apa yang dinasehatkan tersebut, kalau tidak demikian nasehat akan hanya menjadi lips-service.  

4) Metode Qishah (cerita)
Yang mengandung arti, suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran, dengan menuturkan secara kronologis, tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal,  baik yang sebenarnya  terjadi, ataupun hanya rekaan saja. Dalam pendidikan Islam, cerita yang bersumber dari Al-Qur’an dan Hadits, selalu memikat dan menyentuh perasaan dan mendidik perasaan keimanan. Contohnya, surah Yusuf, Bani Israel, dan lain-lain. Dengan cara, seperti mendengarkan kaset, video, cerita-cerita tertulis dan bergambar. Pendidik harus membuka kesempatan bagi anak didik untuk bertanya, setelah itu menjelaskan tentang hikmah qishah dalam meningkatkan akhlak mulia.

5) Metode Amtsal (perumpamaan)
Yaitu metode yang banyak dipergunakan dalam Al-Qur’an dan hadits untuk mewujudkan akhlak mullia. Dalam literatur Islam ditemukan banyak sekali perumpamaan, seperti mengumpamakan orang yang lemah laksana kupu-kupu, orang yang tinggi seperti jerapah, orang yang berani seperti singa, orang yang gemuk seperti gajah, orang yang kurus seperti tongkat, dan orang yang ikut-ikutan seperti beo dan lain-lain. Disarankan untuk mencari perumpamaan yang baik, ketika berbicara dengan anak didik, karena perumpamaan itu akan melekat pada pikirannyadan sulit untuk dilupakan. Misalkan, materi yang diajarkan bersifat abstrak, membandingkan dua masalah yang selevel dan guru/orangtua tidak boleh salah dalam membandingkan, karena akan membingungkan anak didik.

6) Metode Tsawab (ganjaran)
Sebagaimana yang telah diutarakan Armai Arief dalam bukunya, Pengantar Ilmu Metodologi Pendidikan Islam, menjelaskan pengertian tsawab itu, sebagai hadiah, dan hukuman. Metode ini juga penting dalam pembinaan akhlak, karena hadiah dan hukuman sama artinya dengan reward dan punisment dalam pendidikan barat.  Hadiah bisa menjadi dorongan spiritual dalam bersikap baik, sedangkan hukuman dapat menjadi remote control dari perbuatan tidak terpuji. 

b. Tinjauan tentang ‘Bengkel Iman’
‘Bengkel iman’ merupakan suatu program yang sengaja dibuat dalam rangka pembinaan akhlak siswa di  SMA Negeri 1 Besuki. Program ini telah dilaksanakan selama beberapa tahun terakhir dan memberikan hasil yang cukup signifikan terhadap pembentukan karakter religius siswa di SMA Negeri 1 Besuki. 

Tidak berbeda jauh dari beberapa metode pembinaan akhlak yang telah diterangkan diatas, ada beberapa metode pembinaan akhlak yang juga digunakan dalam program ini. diantanya seperti pembiasaan shalat berjaamaah dan metode Mau’izzah. Beberapa kegiatan lainnya sengaja ditambahkan untuk melangkapi metode yang digunakan dalam program ‘Bengkel Iman’ ini.

 Adapun  beberapa kegiatan yang disusun untuk dilaksanakan oleh semua siswa yang diharuskan mengikuti ‘Bengkel Iman’ ini diantaranya adalah:
1) Hypnotherapy
Hypnotherapy, sesuai dengan namanya adalah terapi yang menggunakan hypnosis sebagai sarana untuk menjangkau pikiran bawah sadar klien. Karena yang diotak-atik adalah pikiran, terapis perlu mengetahui teori mengenai pikiran dan cara kerjanya. 
Jadi dapat disimpulkan bahwa pengertian metode hypnotherapy adalah cara yang digunakan untuk melakukan suatu pekerjaan dengan menjangkau pikiran alam bawah sadar manusia dengan mengotak-atik pikiran manusia.
Menurut Adi W Gunawan manusia mempunyai dua macam pikiran, yaitu pikiran sadar dan bawah sadar.  Peran dan pengaruh pikiran sadar terhadap diri kita adalah sebesar 12%, sedangkan pikiran bawah sadar mencapai 88% . Pikiran sadar dan bawah sadar sebenarnya saling mempengaruhi dan bekerja dengan kecepatan yang sangat tinggi 
Adapun pada metode hypnotherapy dalam pelaksanaanya dapat menggunakan beberapa metode, dimana di dalam metode terdapat beberapa teknik dasar. Menurut Adi W Gunawan ada beberapa teknik metode hypnotherapy diantaranya:  
a) Teknik Induksi
Untuk  membantu klien masuk ke dalam kondisi trance, terapis melakukan induksi. Agar induksinya efektif, terapis harus mengerti tipe sugestibilitas klien. Ada yang bertipe phisycal, emotional dan intellectual.
Klien yang bertipe phisycal sangat baik dalam merespon sugesti dan induksi yang bersifat langsung (direct) berhubungan dengan fisik mereka. Klien yang bertipe emotional  hanya kan memberi respon bila induksi yang diberikan bersifat tidak langsung (indirect) dan menyentuh aspek emosi. Sedangkan yang bersifat intellectual hanya akan merespon sugesti atau induksi yang bisa memuaskan pikiran logis mereka.
Sekian banyak teknik induksi dapat dikelompokkan dalam enam teknik dasar, yaitu:
(1) Eye Fixation (Fiksasi Mata)
Dengan fiksasi mata, klien diminta untuk menatap dengan pandangan yang terfokus pada suatu objek. Objek yang digunakan bisa berupa satu titik pandang, cahaya lilin, ujung jari kelingking, atau apa saja sehingga mata akan lelah bila memandanginya dengan terfokus. Teknik ini bertujuan untuk membuat pikiran bawah sadar menjadi bosan dan lengah.
(2) Relaxion or Fatigue of Nervous System (Relaksasi atau Kelelahan Sistem Saraf)
Semua teknik induksi yang meminta klien untuk rileks secara fisik dan mental dengan mata tertutup, menggunakan relaksasi sebagai dasar induksi, termasuk teknik relaksasi progresif dan induksi Ericksonian yang menggunakan cerita.
Relaksasi progresif adalah relaksasi fisik yang sistematis, dimulai dari bagian atas tubuh (misalnya dari kepala kemudian turun ke kaki, atau bisa juga dilakukan dari arah sebaliknya) yang disertai dengan sugesti atu visualisasi untuk memperdalam kondisi rileks. Relaksasi dapat diulangi  sampai tubuh dan pikiran benar-benar rileks sehingga dapat mengahsilkan kondisi trance yang diinginkan.
Sedangkan induksi Ericksonian  adalah bentuk Hipnotis  yang menggunakan metafora dan kondisi fisik klien saat relaksasi sebagai masukan agar klien dapat masuk ke dalam kondisi trance. Misalnya: “Dan saya melihat nafas anda semakin lambat dan berat. Itu berarti anda semakin masuk ke dalam kondisi rileks yang dalam”
(3) Mental Confusion  (membingungkan pikiran)
Teknik ini dirancang untuk membingungkan dan membuat pikiran sadar lengah sehingga klien dapat masuk ke dalam kondisi trance.  Saat sibuk memikirkan makna dari apa yang diucapkan atau dilakukan oleh terapis, pikiran sadar menjadi lengah. Dengan demikian, terapis dapat memberikan sugesti yang langsung masuk ke pikiran alam bawah sadar. Cara lain adalah memberikan banyak input secara bersamaan sehingga pikiran sadar tidak sanggup mengatasi banjir informasi (information over load).
(4) Mental Misdirection (Menyesatkan Pikiran)
Ini adalah tehnik induksi yang menggunakan respon fisik tertentu terhadap sesuatu yang dimajinasikan. Teknik ini menggunakan uji sugistibilitas sebagai sarana untuk membawa klien masuk  ke dalam komdisi  hypnosis. Cotohnya adalah teknik eye catalepsy,  yaitu meminta klien untuk menatup mata dan menggerakkan bola mata ke atas, kea rah ubun-ubun.
Selanjutnya klien disugesti bahwa ia tidak dapat membuka matanya, dan pada saat ini klien merasa telah masuk kedalam kondisi hypnosis. Jika klien dapat membuka matanya. Terapis harus segera menggunakan teknik lain tanpa perlu menjelaskan apa yang telah terjadi.
(5) Loss of Equilibrium (Kehilangan Keseimbangan)
ini adalah tekhnik yang dilakukan sambil menggerakkan atau sebagian tau seluruh tubuh klien. Para ibu sering menggunakan tekhnik ini saat mengayun-ayun anaknya agar tidur. Contoh lain adalah orang yang duduk di kursi goyang. Dengan menggoyang-goyangkan kursinya dia akan semakin rileks dan akhirnya tertidur.
(6) Shock To Nervous System (kejutan pada system saraf)
Ada dua cara untuk secara cepat mengalihkan pengawasan pikian sadar terhadap gerbang bawah sadar. Pikiran bawah sadar akan dapat diakses dengan cepat dan leluasa. Cara pertama adalah membuat pikiran sadar menjadi bosan, yang kedua adalah membuat pikiran sadar “kaget”. Caranya adalah memberikan kejutan yang tidak disangka-sangka sehingga pikiran sadar menjadi bingung untuk sesaat karena berusaha  karena berusaha mencari makna dari kejadian itu. Pada saat pikiran sadar “kaget”, gerbang bawah sadar terbuka untuk sesaat, karena penjaganya sedang lengah. Pada saat itulah, sugesti yang dimasukkan bisa berupa perintah bawah sadar. Sugesti yang dimasukkan bisa berupa perintah agar klien menjadi rileks, atau tidur.
b) Teknik deepening
Deepening sangat tergantung pada teknik terapi yang digunakan, ada tekhnik yang tidak mengharuskan klie masuk ke kondisi trance  yang dalam. Jadi dalam kondisi  light trance,  terapi sudah bisa dilakukan. Namun ada tekhnik yang baru bisa bekerja secara optimal apabila klien berada dalam kondisi deep trance. Dalam hal ini, terapis harus mampu membimbing dan membantu klien masuk kedalam trance yang sesuai agar dapat dicapai hasil terapi yang optimal.
Menurut Adi W Gunawan dalam bukunya yang berjudul Hypnotherapy The Art of Subconcious Restructuring teknik deepening yang umum digunakan ada 10 yaitu:
(1) Menghitung turun
Terapis akan menghitung turun dari 10 ke 1. Pada setiap hitungan turun, anda menjadi dua kali lebih rileks dari hitungan sebelumnya. Semakin turun, anda akan semakin rileks. Setiap hitungan turun membuat  anda dua kali lebih rileks dari hitungan sebelumnya dimulai dari angka 10 hingga 1 dihitung mundur.
(2) Menuruni tangga 
Terapis akan menghitung 1 sampai 3, dan pada hitungan ketiga klien akan berada di lantai dua dari sebuah rumah, dan anda berada di bibir tangga di lantai dua menuju ke lantai satu, tangga tersebut memiliki 10 anak tangga. Terapis harus memastikan bahwa klien telah melihat tangga yang dimaksud sampai klien benar-benar rileks.
(3) The Elevator (turun dengan lift)
Sebelum menggunakan tekhnik deepening ini, terapis harus memastikan bahwa klien tidak phobia terhadap lift.
(4) The Hallway (lorong)
Trance akan semakin dalam bila klien diminta untuk membayangkan melewati lorong atau koridor yang sempit. Semakin jauh menyusurinya, akan semakin dalam trance yang dialami oleh klien.
(5) Head Down
Tekhnik ini menggunakan respon fisik klien sebagai sarana untuk memasukkan sugesti.
(6) Freactinatin 
Dalam tekhnik ini, terapis meminta klien yang sudah menutup mata dan berada dalam kondisi trance untuk membuka mata sejenak, lalu menutupmata lagi. Saat klien menutup mata dan masuk kembali ke kondisi trance,  kondisi trance yang dialaminya cenderung menjadi lebih dari pada sebelumnya.


(7) Menjatuhkan tangan ke pangkuan
Dalam tekhnik ini, terapis mengankat tangan klien sekitar 10 atau 15 cm di atas paha klien, lalu menjatuhkannya sambil memberikan sugesti. Caranya, terapis mengangkat dengan memegang pergelangan tangan klien.
Sugesti diulangi hingga tiga kali untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Setelah itu, perhatikan kondisi fisik klien. Bila perlu, ulangi tekhnik itu sekali atau dua kali lagi untuk membuat klien masuk ke level kedalaman trance yang diinginkan.
(8) Menggunakan anchor dan  conditioning
Anchor dan conditioning ini dilakukan agar pada sesi terapi berikutnya kita dapat membawa klien kembali masuk ke kedalaman trance yang behasil dicapai pada sesi pertama dengan mudah, caranya setelah berhasil dibimbing ke kedalaman trance yang kita inginkan, katakan kepada klien, “lebih dalam”. Selanjutnya pasang anchor dengan berkata:
 “ saat saya menekan pundak anda seperti ini, anda akan langsung masuk ke kedalaman trance seperti sekarang ini”.
(9) Pemandangan alam
Tekhnik ini meperdalam tingkat trance dengan memberikan waktu kepada klien untuk menikmati suatu pemandangan ini bisa berupa tempat yang pernah dikunjungi klien dan membuat perasaan klien tenang, nyaman, dan damai. Bisa juga berupa pemandangan gunung, danau, pantai, sungai, taman bunga,hutan, padang rumpput, dll.
Selain tempat yang nyata, klien juga bisa menggunakan imajinasinya untuk menciptakan suatu pemandangan alam yang disukainya. Yang penting, dengan berada “disana”, klien dapat merasakan ketenangan. Pastikan klien berada di tengah pemandangan itu seorang diri, jangan mengajak orang lain. 
(10) Melalui gerbang besi
Dalam tekhnik ini, klien diminta untuk berjalan melewati gerbang yang besar, berat dan terdiri dari dua lembar daun pintu yang terbuat dari besi solid. Setelah melakukan induksi, terapis bisa meminta klien untuk membayangkan suatu pemandangan alam. Selanjutnya, terapis meminta klien untuk melihat di kejauhan ada sebuah gerbang besi.
2) Shalat berjamaah
Shalat merupakan rukun Islam kedua setelah membaca syahadat. Bahkan shalat juga merupakan tiang agama yang nantinya akan dihisab terlebih dahulu.
Allah memang berkenan dan menyediakan shalat sebagai sarana khusus bagi kita menghadap kehadirat-Nya untuk mengulang ikrar penghambaan, penyembahan, dan pengabdian; menyatakan syukur dan permohonan kita sebagai hamba. Bahkan sepertisenantiasa kita ikrarkan “Inna Shalati Wanusuki Wamahyaya Wamamti Lillahi Rabbil Alamin”. Shalatku, ibadahku, hidup dan matiku, semata-mata adalah bagi Allah tuhan semesta alam.  
Shalat berjamaah ialah shalat yang dilaksanakan bersama-sama paling tidak oleh dua orang, yakni imam (yang memimpin dan makmum (yang mengikuti), dan selebihnya tidak dibatasi dengan jumlah. 
Hukum shalat berjamaah adalah sunnah muakkad, dan dapat terlaksana pada shalat-shalat yang difardhukan dengan hanya satu orang yang shalat bersama imam. Namun keutamaannya akan bertambah dengan bertambahnya jumlah jamaah yang shalat.  Keutamaan shalat jamaah dapat dilihat dari sejumlah hadits yang diriwayatkan oleh Rasulullah SAW diantaranya:
“shalat berjamaah melebihi shalat yang dikerjakan sendirian sebanyak dua puluh tujuh derajat” (HR. Bukhari Muslim)
Shalat mempunyai makna dan bentuk batin dibalik bentuk lahiriyahnya sebagai mana bentuk lahiriyah shalat memiliki sejumlah adab dan tatacara yang bila tidak tidak dijaga akan membatalkan atau mengurangi kesempurnaannya, begitu juga shalat memiliki sejumlah adab batin dan kalbu yang bila tidak dijaga akan membatalkan atau mengurangi kesempurnaan maknawinya.
Dengan menjaga pelbagai adab itulah shalat seseorang dapat memiliki roh malakuti (ghaib). Apabila sesorang memelihara dan memperhatikan dengan baik adab-adab shalat yang berkenaan dengan batin dan kalbu, maka mungkin ia akan mendapatkan bagian dari rahasia Ilahi yang diberikan untuk shlat para ahli makrifat dan pemilik kalbu; suatu rahasia yang merupakan cahaya mata para ahli suluk dan hakikat mi’raj  menuju kedekatan dengan Dzat yang maha tercinta. 
Shalat jamaah merupakan media efektif untuk menanamkan sifat baik pada diri manusia. Di dalam shalat jamaah kaum Muslimin semuanya berdiri secara berdampingan dan berhimpitan 
a) Sholat wajib 
Shalat wajib (fardu) adalah shalat yang diwajibkan atas kaum muslimin yang sudah mukallaf. Shalat wajib lima kali ini ditetapkan oleh Islam memiliki waktu –waktu tertentu dengan tujuan agar menjadi kendali terhadap seluruh perbuatan manusia, mengarahkannya kepada perbuatan ibadah sekaligus sebagai media untuk memberikan sugesti kepadanya agar menyikapi sifat-sifat kebajikan.
Shalat wajib pertama yaitu shalat subuh. Shalat dua rakaat ini dimulai dari terbitnya fajar shadiq hingga terbitnya matahari.  Misalnya shalat subuh ini  ditetapkan waktunya ketika manusia bangkit dari tempat tidurnya sehingga shalatpun menjadikan dirinya menghadapi harinya dengan ibadah.
Shalat wajib kedua yaitu sholat dhuhur. Shalat empat rakaat ini waktunya dimulai dari tergelincirnya matahari sehingga bayangan sesuatu sama panjangnya dengan bendanya di daerah khatulistiwa. Shalat dhur ini  ditetapkan waktunya saat manusia bersiap-siap hendak menikmati makan siang, sebagai pertanda bahwa tubuhpun membutuhkan santapan spiritual  disamping makanan yang berupan materi. 
Shalat wajib ketiga yaitu shalat ashar yang waktunya dimulai dari berakhirnya waktu dhuhur sehingga terbenamnya matahari. Shalat ashar ini  ditetapkan waktunya saat manusia pulang dari rutinitas sehari-harinya dalam keadaan menanggung beban kegelisahan dan kelelahan, sehingga shalat itupun menjadikannya istirahat dan melengkapi ketenangan dan ketentraman dirinya.
Shalat wajib keempat adalah shalat maghrib yang waktunya dimulai dari terbenamnya matahari hingga terbenamnya mega yang merah. Shalat maghrib ditetapkan sebagai pertanda perpisahan dengan sang dan siap menghadapi malam yang akan menjadi jernih padanya jiwa manusia serta dapat lega pikirannya dari kelelahan di siang hari.
Shalat yang terakhir adalah shalat isya’ yang dimulai dari terbenamnya mega yang merah hingga terbitnya fajar shadiq. Shalat isya’ ini ditetapkan waktunya sebelum orang beranjak ke tempat tidurnya supaya shalat tersebut menjadi penutup rutinitas hariannya.  
Jadi tujuan utama yang dimaksudkan dari shalat lima waktu itu adalah agar  manusia senantiasa ingat terus menerus bahwa dirinya memiliki kewajiban terhadap penciptanya. Sekaligus mengingatkannya bahwa dibalik hiruk pikuk kehidupan duniawi ini ada suatu kekuatan tersembunyi, dimana dirinya kelak akan dimintai pertanggung jawaban di hadapan kekuatan ini tentang hal-hal yang pernah dikerjakannya. Maka janganlah sampai tuntutan kehidupan dan keserakahan justru yang mengendalikan akal sehatnya dan menjadi pengahalang antara dirinya dan antara kendali unsur ketuhanan pada dirinya., karena seseorang yang dirinya didominasi oleh unsur ketuhanan akan menjadi kuatlah niatnya dan akan menjadi kukuhlah posisinya dihadapan gelombang musibah yang menerpanya. Dirinya tidak akan pernah putus asa dan frustasi; tidak takut dan gentar karena dirinya selalu berpegang pada Allah, sebagai penciptanya yang di tangan-Nya terletak kendali seluruh alam semesta. 
b) Sholat sunnah 
(1) Sholat tahajjud
Sholat sunnah tahajjud atau disebut juga sebagai shalat al-lail adalah shalat sunnah yang dilakukan pada waktu malam, selepas bangun dari tidur sehingga sebelum adan subuh. Perkataan tahajjud: tark al-hujud, artinya meninggalkan tidur. 
Di dalam surah Al-Isra’: 79 Allah berfirman:
               
Artinya : dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; Mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang Terpuji.
Shalat tahajjud dilaksanakan paling sedikit dua rakaat dan yang paling banyak tidak terbatas, kemudian diakhiri dengan shalat witir. Pada setiap dua rakaat diselingi dengan salam.
Shalat tahjjud ini besar keutamaannya dan banyak pahalanya. Diantaranya dengan shalat tahajjud kita dapat lebih mendekatkan diri pada Allah SWT. Shalat tahajjud juga dapat menjadi penghapus kejahatan dan pencegah dari perbuatan dosa.  Hal ini juga termaktub dalam sebuah hadits yang  diriwayatkan oleh Imam Tirmidi. Dari Abi Umarah r.a. bahwa beliau berkata: Rasulullah SAW telah bersabda:
عَلَيْكُمْ بِقِيَامُ اللَيْلِ فَاِنَّهُ دَاَبٌ الصَّالِحِينَ قَبْلَكُمْ وَهُوَ قَرْبَةٌ اِلَى رَبّكُمْ وَمَكْفَرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ وَمِنْهَاةٌ لِلْإثمِ
“Hendaklah kamu melakukan shalat malam. Sesungghnya ia merupakan kebiasaan orang-orang sholeh sebelum kamu. Ia merupakan pendekatan kepada tuhanmu, penghapus segala kejahatan dan pencegah dari perbuatan dosa”
(2) Shalat Dhuha
Shalat sunnah Dhuha dilaksanakan pada pagi hari sedudah matahari menampakkan sinarnya, kurang lebih 7 hasta atau kurang lebih jm 07.15-07.30 2 jam lebih 10 menit dari waktu subuh hingga matahari tergelincir  yang menandakan waktu shalat subuh hingga matahari tergelincir yang menandakan waktu shalat duhur. Pelaksanaan shalat Dhuha, apaling sedikit dua rakaat. Boleh juga 4 rakaat, 6 rakaat, 8 rakaat dan paling banyak 12 rakaat  dengan cara setiap dua rakaat satu salam.  
Adapun keutamaan shalat Dhuha diantaranya adalah
(a) Orang yang melaksanakan Sholat Dhuha sebanyak dua belas rakaat maka Allah akan membangunkan untuknya istana di surge yang terbuat dari emas.
(b) Orang  yang melaksanakan shalat Dhuha akan diampuni dosa-dosanya.
(c) Pahala shalat sunnah Dhuha sebanding dengan pahala orang yang mengeluarkan sedekah dan melakukan amar ma’ruf nahi mungkar.
3) Pemberian Motivasi. 
Motivasi memiliki akar kata dari bahasa latin yaitu movere, yang berarti gerak atau dorongan untuk bergerak. Dengan begitu, memberikan motivasi bisa diartikan dengan memberikan daya dorong sehingga sesuatu yang dimotivasi tersebut dapat bergerak.  Sementara itu Abraham Maslow dalam Prawira mendefinisikan motivasi adalah sesuatu yang bersifat konstan (tetap), tidak pernah berakhir, berfluktuasi dan bersifat kompleks, dan hal itu kebanyakan merupakan karakteristik universal pada tiap kegiatan organisme.  Banyak para ahli khususnya dalam psikologi yang berusaha untuk mengungkap tentang motivasi. Woodwort  mengatakan: “a motive is a set predisposes the individual of certain activities and for seeking certain goals”. Suatu motive adalah suatu set yang dapat membuat individu melakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mencapai tujuan. Dengan demikian, motivasi adalah dorongan yang dapat menimbulkan perilaku tertentu yang terarah kepada pencapaian suatu tujuan tertentu untuk mencapai tujuan. Hal ini seperti diungkapkan Arden:“ motives as internal condition arouse sustain, direct and determain the intensity of learning effort, anf also define the set satisfying consequences of goals”. Pertanyaan tersebut menjelaskan bahwa kuat lemahnya atau semangat tidaknya usaha yang dilakukan seorag untuk mencapai suatu tujuan akan ditentukan oleh kuat lemahnya motive yang di miliki oleh orang tersebut . Hilgard mengatakan bahwa motivasi adalah suatu keadaan yang terdapat dalam diri seseorang yang menyebabkan sesorang melakukan kegiatan trtentu untuk mencapai tujuan tertentu. Jadi dengan demikian motitivasi muncul dalam diri seseorang karena dorongan untuk mencapai tujuan. 
 Sedangkan menurut Haryu banyak ahli yang sudah mengemukakan pengertian motivasi dengan berbagai sudut pandang mereka masing-masing, namun intinya sama, yakni sebagai suatu pendorong yang mengubah energy dalam diri seseorang ke dalam bentuk aktivitas nyata untuk mencapai tujuan tertentu.  Dari beberapa pengertian motivasi sepeerti yang telah dikemukakan tersebut,  dapat disimpulkan bahwa motivasi pada dasarnya adaah suatu usaha untuk meningkatkan kegiatan dalam mencapai suatu tujuan tertentu, termasuk didalamnya kegiatan belajar. Secara lebih khusus jika orang menyebutkan motivasi belajaryang dimaksudkan tentu segala sesuatu yang ditujukan untuk mendorong atau memberikan semangat kepada seseorang yang melakukn kegiatan belajar agar menjadi lebih giat lagi dalam belajarnya untuk memperoleh prestasi yang lebih baik lagi.
Sedangkan motivasi dapat timbul dari luar maupun dari dalam individu itu sendiri. Sehingga hal ini membuat motivasi terbagi atas dua macam yaitu motivasi instrinsik (motivasi yang timbul dari dalam diri individu), dan motivasi ekstrinsik (motivasi yang timbul dari luar diri individu) 
a) Motivasi instrinsik
Yang dimaksud dengan motivasi instrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam setiap diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.  Sementara itu motivasi instrinsik menurut Restian merupakan motivasi yang muncul atas kemauan siswa itu sendiri. 
Bila seseorang telah memiliki motivasi instrinsik dalam dirinya, maka secara sadar akan melakukan suatu kegiatan yang tidak memerlukan motivasi dari luar dirinya. Dalam aktivitas belajar motivasi instrinsik sangat diperlukan, terutama belajar sendiri. Seseorang yang tidak memiliki motivasi instrinsik sulit sekali melakukan aktivitas belajar terus menerus. Seseorang yang memiliki motivasi instrinsik selalu ingin maju dalam belajar. Keinginan itu dilatar belakangi oleh pemikiran yang positif, bahwa semua mata pelajaran yang dipelajari sekarang akan dibutuhkan dan sangat berguna kini dan masa mendatang. 
Menurut Restian motivasi yang besar dalam diri seseorang dapat diukur dari bagaimana ia terus berusaha keras, tekun serta tidak mudah putus asa walau dihadang berbagai hambatan serta kesulitan dalam belajar. Seseorang dengan motivasi yang tinggi tidak akan pernah menyerah sebelum mendapatkan apa yang diinginkan. 
b) Motivasi ekstrinsik
Motivasi ekstrinsik adalah dorongan terhadap perilaku seseorang yang ada diluar perbuatan yang dilakukannya.  Motivasi ekstrinsik bisa juga diartikan sebagai motif-motif yang aktif dan berfungsi karena adanya perangsang dari luar.
Menurut Haryu motivasi belajar dapat dikatakan ekstrinsik bila anak didik menempatkan tujuan belajarnya dan di luar faktor-faktor situasi belajar (resides in some factor outside the learning situation). Anak didik belajar karena hendak mencapai tujuan yang terletak di luar hal yang dipelajarinya.  Misalnya, seorang siswa rajin belajar karena ingin mendapatkan nilai yang baik dari gurunya atau hadiah dari orang tuanya.
Motivasi ekstrinsik bukan berarti motivasi yang tidak diperlukan dan tidak baik dalam pendidikan. Motivasi ekstrinsik diperlukan agar anak didik termotivasi untuk belajar. Guru yang berhasil mengajar adalah guru yang pandai  membangkitkan minat anak didik dalam belajar, dengan memanfaatkan motivasi ekstrinsik dalam berbagai bentuk. Kesalahan penggunaan bentuk-bentuk motivasi ekstrinsik akan merugikan anak didik. Akibatnya, motivasi ekstrinsik bukan berfungsi sebagai pendorong, tetapi menjadikan anak didik malas belajar. Karena itu, guru harus bisa dan pandai mempergunakan motivasi ekstrinsik ini dengan akurat dan benar dalam rangka menunjang proses instrinsik edukatif di kelas.
Motivasi ekstrinsik tidak selalu buruk akibatnya. Motivasi ekstrinsik sering digunakan karena bahan pelajaran kurang menarik perhatian anak didik atau karena sikap tertentu pada guru atau orang tua. Baik motivasi ekstrinsik yang positif maupun motivasi ekstrinsik yang negatif, sama-sama mempengaruhi sikap dan perilaku anak didik. Diakui, angka, ijazah, pujian, hadiah, dan sebagainya berpengaruh positif dengan merangsang anak didik untuk giat belajar.  Sedangkan ejekan, celaan, hukuman yang menghina, sindiran kasar, dan sebagainya berpengaruh negatif dengan renggangnya hubungan guru dengan anak didik. Jadilah guru sebagai orang yang dibenci oleh anak didik. Efek penggiringnya, mata pelajaran yang dipegang guru itu tidak disukai oleh anak didik.
c. Tinjauan Tentang Pembentukan Karakter Religius 
Menurut bahasa istilah karakter berasal dari bahasa latin kharakter. Kharassaein dan kharax, dalam bahasa Yunani karakter dari kata charassein, yang berarti membuat tajam dan membuat dalam. Dalam bahasa Inggris character dan dalam bahasa Indonesia lazim digunakan dengan istilah karakter. 
Menurut Darma Kesuma, karakter berasal dari nilai tentang sesuatu. Suatu nilai yang diwujudkan dalam bentuk perilaku seseorang. Itulah yang disebut karakter. Jadi suatu karakter melekat dengan nilai dari perilaku tersebut. Karenanya tidak ada perilaku seseorang yang tidak bebas dari nilai. 
Sedangkan menurut Gunawan, karakter adalah keadaan asli yang ada dalam diri individu seseorang yang membedakan antara dirinya dengan orang lain. 
Karakter dimaknai sebagai cara berpikir dan berperilaku dimaknai sebagai sebagai cara berpikir dan berperilaku yang khas tiap individu untuk hidup dan bekerjasama, baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu yang berkarakter baik adalah individu yang dapat membuat keputusan dan siap mempertanggung jawabkan setiap akibat dari keputusannya.  
Karakter dapat dianggap sebagai nilai-nilai perilaku manusia yang berhubungan dengan Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan dan kebangsaan yang terwujud dalam pikiran, sikap, perasaan, perkataan, dan perbuatan berdasarkan norma-norma agama, hukum, tatakrama, budaya, adat istiadat dan estetika.  
Religius di dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mempunyai arti bersifat keagamaan. 
Sedangkan menurut Muhammad Alim, religius adalah suatu tindakan yang didasari oleh dasar kepercayaan terhadap nilai-nilai kebenaran yang diyakininya. 
Religius berarti sifat religi yang melekat pada diri seseorang. Religius adalah nilai karakter dalam hubungannya dengan tuhan. Ia menunjukkan bahwa oikiran, perkataan, dan tidakan seseorang yang diupayakan selalu berdasarkan pada nilai-nilai ketuhanan dan atau ajaran agamanya. 
Menurut Zayadi sumber nilai Religius yang berlaku dalam kehidupan manusia digolongkan menjadi dua macam yaitu: 
1) Nilai Illahiyah (Hablum min Allah SWT)
Nilai Illahiyah adalah nilai yang berhubungan dengan ketuhanan  atau hablum min Allah SWT dimana inti dari ketuhanan adalah keagamaan. Kegiatan menanamkan nilai keagamaan menjadi inti nilai pendidikan. 
Akhlak terhadap Allah merupakan sikap atau perbuatan yang seharusnya dilakukan oleh manusia sebagai makhluk kepada tuhan sebagai kholiq. Ada empat alasan mengapa manusia perlu berakhlak kepada Allah. Pertama, karena Allah yang telah menciptakan manusia. Kedua, karena Allah yang telah memberikan panca indera. Ketiga, karena yang menyediakan berbagai bahan dan sarana. Keempat, karena allah yang memuliakan manusia dengan diberikan kemampuan menguasai daratan dan lautan. 
Adapun nilai-nilai religius yang paling mendasar menurut Zayadi diantaranya ialah: 
a) Bertaqwa kepada Allah
Taqwa yaitu sikap menjalankan perintah dan menjauhi  larangan Allah SWT.  Dengan dasar taqwa ini orang akan selalu berhati-hati dalam menyusuri kehidupannya yang penuh berbaur antara kebenaran dan kebathilan. Bilamana unsur taqwa tidak benar-benar dihujamkan dalam hati, maka orang mudah terombang-ambing oleh gerak tipu duniawi yang melelapkan. 
Sebagaimana arti taqwa, maka kata itu mengandung ungkapan di dalam penghindaran diri dari kemurkaan Allah SWT, dan siksa-Nya, dengan melaksanakan apa yang dia perintahkan dan menahan diri dari apa yang dia larang. Atau secara umum hakikat taqwa adalah Allah tidak melihat kehadiranmu dimana dia telah melarangmu dan juga Allah tidak kehilangan kamu dimana dia memerintahkanmu.
Dari pengertian itu, maka taqwa akan membuahkan perilaku yang baik kepada setiap orang yang bertaqwa. Atau dengan kata lain, orang yang bertaqwa akan selalu mengikuti semua perintah Allah dan akan selalu menjauhi semua larangan-Nya.
Menurut Imam Ghazali, taqwa di dalam Al-Qur’an disebutkan dalam tiga arti, yaitu:
(1) Takut dan Segan
Artinya takut dan segan menjalankan semua jenis kemaksiatan, termasuk bermegah-megahan dalam masalah duniawi karena bisa melalaikan orang menyambah kepada Allah dengan sepenuh hati.
(2) Taat dan Beribadah
Artinya taat menjalankan semua perintah agama dan menjauhi larangan-larangan agama untuk kemudian mengisi hidupnya dengan beribadah sebagai realisasi sifat kehambaan manusia dan mengabdi kepadanya.
(3) Membersihkan hati dari dosa
Artinya membersihkan hati dari berbagai penyakit hati yang bisa merusak kadar iman seseorang. 
Karena begitu pentingnya arti taqwabagi setiap orang maka banyak kita dapatkan ayat-ayat Al-Qura’an atau hadits yang memerintahkan taqwa. Adapun faedah taqwa antara lain:
(1) Diberi jalan keluar dari segala macam kesulitan.
(2) Diberi jalan rezeki yang tak terduga-duga sebelumnya.
(3) Diberi petunjuk oleh Allah menuju jalan yang lurus
(4) Diberi ilmu pengetahuan yang berguna oleh Allah SWT.
(5) Pandai dan teliti dalam membedakan antara kebenaran dan kebatilan.
(6) Dihapuskan keslahan-kesalahan serta diampuni dosa-dosanya.
(7) Selalu dalam perlindungan Allah. 


b) Bersyukur dan bersabar kepada Allah
Syukur yaitu sikap penuh rasa terimakasih dan penghargaan atas nikmat dan karunia yang diberikan Allah SWT.  Sementara itu, Ibnu ‘ajibah dalam Mustaqim berpendapat bahwa syukur adalah senangnya hati seseorang atas kenikmatan yang ia peroleh, lantas anggota tubuhnya tergerak untuk taat kepada yang memberi nikmat, disertai sikap pengakuan kepada dzat yang memberi nikmat dengan tunduk kepadanya. 
Dengan ungkapan lain, syukur adalah berterima kasih kepada Allah sebagai dzat yang memberi nikmat, yang dibuktikan tidak saja dengan hati dan ucapan, tetapi juga dengan tindakan. Seseorang yang pandai bersyukur akan menggunakan seluruh anugerah tuhan untuk hal-hal yang mendatangkan ridla-Nya. Manfaat bersyukur sesungguhnya akan kembali kepada diri orang itu sendiri. Allah SWT berfirman:
                                     •     
Artinya: Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari AI Kitab"Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip". Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: "Ini termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba Aku apakah Aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia". QS. An-Naml: 40 
Adapun syukur itu dapat dikategorikan kedalam tiga bentuk, pertama, syukur dengan hati yaitu manusia harus menyadari dengan kesadaran mendalambahwa seluruh nikmat datangnya dari Allah SWT, seraya memuji kebesaran Allah dengan hatinya. Kedua, syukur dengan lisan, yaitu dengan cara banyak mengucapkan tasbih dan tahmid. Ketiga, syukur dengan anggota badan yaitu dengan cara beramal shaleh. 
Sedangkan sabar adalah tindakan yang tidak tergesa-gesa atau tidak ngotot di dalam mencapai suatu tujuan. Tetapi bukan berarti malas berusaha. 
Dengan demikian ‘kesabaran’ menggambarkan aspek penting dari iman kepada tuhan. Kesabaran merupakan aspek khusus dari iman karena kesabaran itu ditunjukkan ketika sedang mengahadapi keadaan yang tidak menyenangkan. 
Meskipun kelihatannya mudah, tetapi tidak semua orang bisa mengamalkan sifat sabardalam setiap tindakannya. Orang mudah marah, kerap menggerutu, suka mengadu kepada orang lain adalah tanda-tanda dia tidak punya kesabaran. Begitupula orang yang hanya menyerah begitu saja atas semua keadaan yang menimpa pada dirinya tanpa ada usaha memperbaikinya, diapun bukan orang yang sabar. Orang seperti ini pada hakikatnya adalah pemalas.
Banyak sekali orang yang celaka karena tidak sabar dan tidak sedikit pula orang yang gagal hanya karena tidak mau bersabar. Menurut Rif’an kesabaran adalah modal dasar para pemenang. Kesabaran membuat kualitas orang-orangnya melejit berkali lipat dibanding orang yang tidak sabar. 
Syukur dan sabar sangat dibutuhkan dalam menjalankan kehidupan ini. karena  susah dan senang akan datang silih berganti. Disaat kita merasakan senang dan bahagia maka agama memerintahkan kita untuk bersyukur atas nikmat kebahagiaan yang diberikan Allah swt, begitupun disaat kita merasa sedih dan tertimpa musibah, maka agama memerintahkan kita untuk bersabar menghadapinya. Begitulah mengapa kedua sifat ini sangat penting dan harus kita biasakan dalam kehidupan sehari-hari.
c) Bertawakal kepada Allah
Tawakal yaitu sikap senantiasa bersandar kepada Allah SWT  dengan penuh harap kepada Allah SWT.  Tawakal juga dapat diartikan sebagai berserah diri kepada Allah SWT, menyerahkan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada-Nya.  Tawakal merupakan salah satu ibadah hati yang paling utama  dan salah satu dari berbagai akhlak iman yang agung. Sebagaimana yang dikatakan imam Al-Ghazali, tawakal merupakan salah satu manzilah agama dan kedudukan orang-orang yang beriman. Bahkan tawakal termasuk derajat muqarrabin yang paling tinggi.   Sehingga tidak sedikit ayat yang memerintahkan ummat muslim untuk bertawakal kepada Allah SWT. Diantaranya yaitu termaktub pada QS. Ali Imran ayat 160
                     
Artinya: Jika Allah menolong kamu, Maka tak adalah orang yang dapat mengalahkan kamu; jika Allah membiarkan kamu (Tidak memberi pertolongan), Maka siapakah gerangan yang dapat menolong kamu (selain) dari Allah sesudah itu? Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal. 

Tidak mengherankan jka Al-Qur’an menaruh perhatian yang besar terhadap tawakal, entah berupa perintah untuk tawakal, pujian terhadap tawakal, pujian terhadap tawakal ataupun berupa  penjelasan tentang keutamaan dan pengaruhnya di dunia  serta akhirat. Karena Al-Qur’anpun telah menegaskan bahwa tawakal adalah akhlak semua Rasulullah, sejak Nuh pemuka para rasul hingga Muhammad penutup para Rasul.  
2) Nilai Insaniyah (Hablum Minan nas)
Nilai insaniyah adalah nilai yang berhubungan dengan sesama manusia atau  hablum minan nas, yang berisi budi pekerti, berikut adalah nilai yang tercangkup dalam nilai Insaniyah. 
a) Sikap peduli terhadap sesama 
Manusia tidak dapat hidup sendirian, Ia selalu bersama-sama dengan orang lain. Sulit dibayangkan, jika ada manusia yang hidup menyendiri tanpa bantuan orang lain. Manusia memerlukan bantuan dari orang lain, bahkan mulai dari dalam kandungan sampai meninggal dunia. Dengan demikian manusia memiliki berbagai kekurangan dalam dirinya sehingga dianjurkan untuk bersikap saling tolong menolong untuk meraih kehidupan yang lebih baik.
Ridwan Asy-Syirbaany mengemukakan bahwa, manusia bukanlah sebagai Khaliq yang memiliki segala ke-Maha Kuasaan. Manusia hanyalah merupakan makhluk diantara makhluk-makhluk Allah SWT lainnya. Untuk itu didalam dirinya selalu diliputi oleh berbagai kekurangan, kelemahan dan kefaqiran. Tiada seorang manusia pun yang super kuat dan maha hebat. Tiada manusia yang dapat hidup berdiri sendiri, tanpa memerlukan bantuan orang lain walau setinggi apapun jabatan yang dimilikinya dan sekaya apapun harta yang dipunyainya. 
Allah SWT berfirman:
                             •                      •   •     
 “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi´ar-syi´ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian (mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya”. 
Ayat di atas menganjurkan agar dalam diri kita harus menanamkan sikap bergotong royong dan saling tolong menolong. Namun perlu diketahui bergotong royong dan saling menolong yang dianjurkan adalah dalam hal kebaikan, jadi jika bergotong royong dan saling tolong menolong dalam hal keburukan itu di larang oleh Allah SWT, karena hal tersebut tidak dianjurkan dan dilarang.
b) Tanggung jawab
Menurut kamus besar bahasa Indonesia, tanggung jawab adalah “keadaan wajib menanggung segala sesuatunya (kalau terjadi apa-apa boleh dituntut, dipersalahkan diperkarakan, dsb)”. Tanggung jawab menurut Wiyoto adalah “mengambil keputusan yang terbaik dalam batas-batas norma sosial dan efektif, untuk meningkatkan hubungan antara manusia yang positif”. Tanggung jawab siswa baik secara pribadi maupun kelompok ditunjukkan untuk memperoleh hasil belajar yang baik.  
Menurut Wiyoto seseorang siswa bertanggung jawab jika: (1) melakukan tugas rutin tanpa diberitahu, (2) dapat menjelaskan apa yang dilakukannya, (3) tidak menyalahkan orang lainyang berlebihan, (4) mampu menentukan pilihan dari beberapa alternatif, (5) dapat berkonsentrasi pada belajar yang rumit, (6) bisa membuat keputusan yang berbeda dari keputusan orang lain dan kelompoknya, (7) mempunyai minat yang kuat untuk menekuni dalam belajar, (8) menjalin komunikasi dengan sesama anggota kelompok, (9) menghormati dan menghargai aturan, (10) bersedia dan siap mempresentasikan hasil kerja kelompok, (11) memiliki kemampuan dalam mengemukakan pendapat, (12) mengakui kesalahan tanpa mengajukan alasan yang dibuat-buat. 
c) Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua  
Kasih sayang merupakan hubungan yang unik diantara dua orang manusia atau lebih. Pola hubungan ini ditandai oleh adanya perasaan sayang, saling mengasihi, saling mencintai, saling memperhatikan saling memberi. Hal-hal demikian perlu ditanamkan pada setiap manusia karena kasih sayang merupakan kebutuhan alami manusia. Seperti manusia tidak dapat hidup tanpa makan dan minum, maka manusia juga tidak bisa hidup tanpa kasih sayang.
Penjelasan diatas diperkuat dengan pendapatnya Mahjuddin, bahwa penanaman sikap kasih sayang dalam setiap pribadi, menjadi anjuran Islam, lewat pendidikan dan pembiasaan. Karena rasa kasih sayang yang kuat, dapat menampilkan perilaku yang lemah lembut dalam pergaulannya, serta kuat bersabar menerima perlakuan yang kurang baik dari sesama manusia. 
Allah SWT berfirman: 
                              •     
“Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. Karena itu memaafkanlah mereka dan mohonlah ampunan untuk mereka. Dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila engkau telah membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah. Sungguh, Allah mencintai orang yang bertawakal”. 

Dalam sebuah hadits Rasulullah bersabda:
عن ابن عباس – رضي الله عنها – عن رسول الله قال : لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يُوَقِّرَ اَلْكَبِيْرَ, وَيَرْحَمُ الصَغِيْرَ, وَيَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَى عَنِ الْمُنْكَرِ. (رواه أحمد والترمذي وابن حبان في صحيحه )
Dari Ibnu Abbas ra. Dari rasulullah saw beliau bersabda: “bukan termasuk dari kami orang yang tidak menghormati yang lebih tua dan  tidak menyayangi yang lebih kecil serta orang yang tidak memerintah pada kebaikan dan mencegah perbuatan munkar” (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, dan Ibnu Hibban dalam shahihnya).
Dari hadits diatas dapat kita pahami bahwa perintah menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih bukan perintah yang main-main. Bahkan Rasulullah tidak akan mengakui ummatnya yang tidak mau menghormati yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
Maksud menghormati yang lebih tua dari hadits diatas yaitu tidak menunaikan haknya dengan memuliakan dan menghormati mereka. Sebaiknya menyayangi yang lebih kecil memiliki arti berlaku lemah lembut kepada yang lebih kecil yaitu dengan membimbing dan mengajarinya.
H. Metode Penelitian 
Salah satu komponen penting dalam penelitian adalah metode penelitian. Dengan menggunakan metode yang tepat, sehingga peneliti dapat melakukan dengan mudah dan lebih terarah sesuai dengan tujuan yang ingin tercapai.
1. Pendekatan dan jenis penelitian 
Penelitian yang dilakukan membutuhkan metode yang tepat untuk mendapatkan data yang sesuai dengan penelitian yang akan dilakukan. Adapun dalam penelitian ini, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, hal ini sesuai dengan tema dan judul penelitian yang diajukan oleh peneliti. 
Penelitian kualitatif adalah penelitian ilmiah dengan menyadarkan kebenaran pada sisi kriteria ilmu empiris yang berusaha untuk mengeksplorasi, mendeskripsikan, menjelaskan, dan memprediksi kejadian-kejadian pada setting sosial. Pernyataan-pernyataan ilmu empiris yang memiliki kebenaran ilmiah harus cocok dengan fakta pengalaman yang didukung oleh evidensi (bukti) empiris. 
Adapun jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif kualitatif dengan alasan karena data yang diperoleh peneliti dapat menggambarkan dalam penelitian.
Deskriptif kualitatif adalah suatu metode penelitian yang bermaksud untuk membuat penginderaan (deskripsi) mengenai situasi-situasi dan kejadian-kejadian. 
2. Lokasi penelitian 
Lokasi penelitian ini bertempat di SMA N 1 Besuki , Jl. Gn. Ijen No 9, Besuki situbondo. Alasan pemilihan lokasi ini salah satunya, sekolah tersebut merupakan sekolah yang selalu memiliki inovasi- inovasi baru dalam hal pembelajaran. Termasuk ’bengkel iman’ yang merupakan salah satu program untuk membentuk karakter religius siswa. 
3. Subyek penelitian
Untuk menentukan subyek dalam penelitian ini, peneliti memilih teknik purposive sampling dan Snowball Sampling. Tekik purposive sampling adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu. Pertimbangan tertentu ini, misalnya orang tersebut yang dianggap paling tahu tentang apa yang kita harapkan, atau mungkin dia sebagai penguasa sehingga akan memudahkan peneliti menjelajahi objek/situasi sosial yang diteliti. 
Dalam teknik purpose sampling peneliti memilih subyek penelitian dengan tujuan untuk menentukan informan kunci (key informan) yang sesuai dengan fokus penelitian yang dilakukan secara sengaja tanpa dibuat-buat untuk mendapatkan kekuatan akurasinya. Sedangkan untuk menambah kredibilitas data, peneliti juga menggunakan teknik snowball sampling yang mana bertujuan untuk mengembangkan informasi. Adapun teknik snowball sampling  sendiri adalah teknik pengambilan sampel sumber data, yang pada awalnya jumlahnya sedikit lama-lama menjadi besar. Hal ini dilakukan karena dari jumlah sumber data yang sedikit itu tersebut belum mampu memberikan data yang memuaskan, maka mencari orang lain lagi yang dapat digunakan sebagai sumber data.  
Subyek dalam penelitian ini adalah guru PAI yaitu bapak Sarwoko dan Bapak Nur selaku guru Bimbingan Konseling. Selanjutnya akan mencari sumber data yang lain untuk memberikan data yang dibutuhkan. Dengan demikian jumlah sampel sumber data akan semakin besar, seperti bola salju yang mengglinding, lama-lama menjadi besar.
4. Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data merupakan hal yang sangat diperlukan dalam suatu penelitian, maka dalam pengumpulan data, tentu tidak hanya mempertimbangkan tingkat efisiensi namun lebih dari itu juga harus dipertimbangkan mengenai kesesuaian teknik yang digunakan dalam menggali dan mengumpulkan data tersebut. Hal ini berkaitan dengan tingkat validitas dan relevansinya dengan objek penelitian.
Adapun teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian yang akan dilakukan, antara lain:
a. Metode Observasi
Menurut Nasution, menyatakan bahwa observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan. Para ilmuan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi. Data itu di kumpulkan dan sering dengan bantuan berbagai alat yang sangat canggih, sehingga benda-benda yang sangat kecil maupun yang sangat jauh dapat diobservasi dengan jelas. 
Adapun jenis yang digunakan dalam observasi adalah observasi partisipatif. Observasi partisipatif digolongkan menjadi empat golongan, yaitu: partisipasi pasif, partisipasi moderat, partisipasi aktif dan partisipasi lengkap. Namun dalam penelitian ini, peneliti hanya menggunakan observasi pertisipasi moderat, dalam observasi ini terdapat keseimbangan antara peneliti menjadi orang dalam dengan orang luar. peneliti dalam mengumpulkan data ikut observasi partisipatif dalam beberapa kegiatan, tetapi tidak semuanya.    
Melalui observasi ini, data yang akan diperoleh adalah data utama untuk mengetahui secara langsung:
1) Apa saja bentuk layanan-layanan yang ada di  dalam program bengkel iman sebagai upaya pembentukan siswa religius di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo  tahun ajaran 2017/2018.
2) Bagaimana pelaksanaan program bengkel iman sebagai upaya pembentukan siswa religius di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo  tahun ajaran 2017/2018.
b. Metode Wawancara
Wawancara adalah suatu teknik untuk mendapatkan data dengan cara face to face relation. Teknik ini dilakukan dengan cara mengajukan pertanyaan kepada informan. Wawancara dapat dilakukan langsung maupun tidak langsung dilakukan dengan seorang perantara untuk mendapatkan data.   
Penelitian ini menggunakan jenis wawancara bebas tak berstruktur. Dikarenakan peneliti tidak menggunakan pedoman wawancara yang telah tersusun secara sistematis dan lengkap untuk pengumpulan datanya. Pedoman wawancara yang digunakan hanya berupa garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan.
Adapun data yang akan diperoleh dengan menggunakan teknik wawancara ini adalah:
1) Apa saja bentuk layanan-layanan yang ada di  dalam program bengkel iman sebagai upaya pembentukan siswa religius di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo  tahun ajaran 2017/2018.
2) Bagaimana pelaksanaan program bengkel iman sebagai upaya pembentukan siswa religius di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo  tahun ajaran 2017/2018.
c. Metode Dokumentasi 
Selain menggunakan teknik observasi dan wawancara, peneliti juga menggunakan teknik dokumentasi. Teknik dokumentasi adalah teknik pengumpulan data yang tidak langsung ditujukan pada subyek peneliti, tetapi melalui dokumen. Dokumen adalah catatan tertulis yang disusun oleh seseorang atau lembaga untuk keperluan pengujian suatu peristiwa dan berguna bagi sumber data, bukti, informasi kealamiahan yang sukar untuk ditemukan dan membuka kesempatan untuk lebih memperluas pengetahuan terhadap sesuatu yang diselidiki.
Data yang diperoleh dari dokumentasi adalah:
1) Daftar peserta didik  yang pernah masuk program ‘bengkel iman’
2) Daftar hadir peserta didik dalam program ‘bengkel iman’
3) Daftar dan jadwal kegiatan harian program ‘bengkel iman’
5. Analisis Data
Analisis data dalam penelitian kualitatif, dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung, dan setelah selesai pengumpulan data dalam periode tertentu. Menurut Miles dan Hubermen dalam Sugiyono mengemukakan bahwa aktivitas dalam analisis data kualitatif  dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas hingga datanya jenuh.  Adapun aktivitas dalam analisis data sebagai berikut:
a. Reduksi data 
Reduksi data yaitu suatu bentuk analisis menajamkan, penyederhanaan dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis di lapangan atau suatu bentuk yang tidak perlu dan mengordinasi data dengan cara sedemikian rupa sehingga kesimpulan-kesimpulan akhir dapat ditarik dan verifikasi. 
b. Penyajian data
Penyajian data merupakan langkah merancang dengan berkesinambungan terhadap deretan kolom-kolom sebuah matrik untuk data kualitatif  dan menemukan jenis serta bentuk data yang harus dimasukkan dalam laporan selama memperoleh data di lapangan. 
c. Penarikan kesimpulan
Kesimpulan awal yang dikemukakan masih bersifat sementara dan akan berubah apabila tidak ditemukan bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya. Tetapi apabila kesimpulan yang dikemukakan pada tahap awal didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan mengumpulkan data, maka kesimpulan yang dikemukakan merupakan kesimpulan yang kredibel. 
6. Keabsahan data
Dalam penelitian ini keabsahan data yang digunakan adalah dengan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang memanfaatkan sesuatu yang lain diluar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap dua data itu. Adapun triangulasi yang digunakan dalam penelitian ini yatu triangulasi sumber dan triangulasi teknik. Triangulasi sumber adalah teknik yang dilakukan peneliti dengan mengecek data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber. Sedangkan triangulasi teknik adalah teknik yang dilakukan peneliti dengan cara mengecek data kepada sumber yang sama dengan teknik yang berbeda. 
7. Tahapan-tahapan penelitian
Dalam penelitian kualitatif ini, penulis menggunakan tiga tahp pekerjaan lapangan dan analisis data.
a. Tahap pra-lapangan 
Tahap pra-lapangan adalah tahap dimana ditetapkan apa saja yang harus dilakukan sebelum seorang peneliti masuk ke lapangan obyek studi:

1) Menyusun rancangan penelitian
Dalam menyusun rencana ini peneliti menetapkan beberapa hal seperti berikut: judul penelitian, alasan penelitian, fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, objek penelitian dan metode yang digunakan.
2) Pengurusan surat izin
Dengan surat pengantar dari ketua program studi, maka peneliti memohon izin kepada ketua lembaga dan pengurus organisasi untuk melakukan penelitian. Dengan demikian peneliti dapat langsung melakukan tahapan-tahapan penelitian setelah mendapatkan izin untuk melakukan penelitian di tempat tersebut.
3) Menilai keadaan lapangan
Penilaian lapangan akan terlaksana dengan baik apabila peneliti sudah membaca terlebih dahulu kepustakaan atau mengetahui melalui orang dalam tentang situasi dan kondisi daerah tempat penelitian dilakukan. Dan diharapkan pula peneliti dapat menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan tempat penelitian.
4) Menyiapkan perlengkapan penelitian
Dalam penelitian ini peneliti mempersiapkan alat-alat  yang diperlukan untukmengumpulkan data yang berhubungan dengan pembinaan akhlak dengan cara menyusun instrument dan wawancara serta dokumentasi.
b. Tahap pekerjaan lapangan
Setelah persiapan dianggap matang, maka tahap selanjutnya adalah melaksanakan penelitian. Dalam pelaksanaan tahap ini, peneliti mengumpulkan data-data yang diperlukan dengan menggunakan beberapa metode, aantara lain adalah observasi, wawancara dan dokumentasi.

c. Tahap analisis data
Setelah semua data selesai dianalisis, kemudian kegiatan peneliti dilanjutkan dengan penyusunan laporan penelitian. Laporan tersebut diserahkan kepada dosen pembimbing untuk direvisi. Berdasarkan masukan-masukan dari dosen pembimbing kemudian direvisi kembali  oleh peneliti. Kegiatan ini terus dilakukan oleh peneliti. Kegiatan ini terus dilakukan oleh peneliti sehingga pembimbing menyatakan hasil penelitian ini siap untuk diujikan.
I. Sistematika Pembahasan
Pembahasan dalam skripsi ini terdiri dari lima bab yang dimulai dengan bab pendahuluan hingga bab penutup. Secara garis besarnya dapat dilihat sebagai berikut:
Bab I pendahuluan, di dalam bab ini membahas tentang latar belakang masalah, kemudian dilanjutkan dengan fokus penelitian, tujuan penelitian, manfaat, definisi istilah, dan sistematika pembahasan.
Bab II kajian kepustakaan, bab ini berisi tentang penelitian terdahulu sebagai perbandingan untuk menyusun kepustakaan dan kajian teori sebagai pendukung karya ilmiah ini, yaitu tentang pembinaan akhak siswa melalui ‘bengkel iman’ sebagai upaya pembentukan karakter religius 
Bab III  metode penelitian, bab ini membahas tentang pendekatan dan jenis penelitian, lokasi penelitian, dilanjutkan dengan subyek penelitian, teknik pengumpulan data, analisis data , keabsahan data, dan tahap-tahap penelitian.
Bab IV merupakan penyajian data dan analisis yang tersusun dari gambaran obyek penelitian, penyajian data dan analisis serta pembahasan temuan.
Bab V penutup yang terdiri dari kesimpulan dari hasil penelitian dan saran yang bersifat konstruktif.  
Bagian akhir memuat daftar pustaka, pernyataan keaslian penulisan dan lampiran-lampiran.
J. Daftar Pustaka
Al-ghazali, Imam.  Ihya’ ulumuddin, juz III. Beirut: Dar al-Fikr.
Alim, Muhammad. 2006.  Pendidikan Agama Islam Upaya pembentukan pemikiran dan kepribadian muslim. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Al-Qardhawi, Yusuf. 2000. Tawakal. Jakarta:Pustaka Al-Kautsar,. 
Asy-Syirbaany, Ridwan.2000.  Membentuk Pribadi Islami (Suatu Kajian Akhlaq). Jakarta: PT. Intimedia Ciptanusantara.
Bisri, Mustofa. 2016.  Saleh ritual saleh social. Yogyakarta:Diva Press.
Departemen Pendidikan Nasional. 2008.  Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.
Depdikbud. 1995. Kamus besar bahasa Indonesia.Jakarta:Balai Pustaka.
Fatah, Abdul. 1995. Kehidupan manusia di tengah-tengah alam materi. Jakarta:Rineka Cipta.
Gunawan,Adi W. 2009.  Hypnotherapy the art of subconscious restructuring. Jakarta:PT. Gramedia Building.
Gunawan.2014. Pendidikan Karakter Konsep dan Implimentasi. Bandung; Alfabeta.
Islamudin, Haryu. 2011. Psikologi pendidikan. Jember:STAIN Jember Press.
Izutsu,Toshihiko. 1993.  Konsep-konsep etika religius dalam Qur’an.Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya.
KBBI online
Kesuma, Dharma Dkk. 2012. Pendidikan Karakter Kajian Teori dan Praktik di Sekolah. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Khomeini, Imam. 2004.  Al-Adab al-Ma’nawiyah Li Ash-Shalah. Jakarta:Misbah.
Mahjuddin. 2000. Pendidikan Hati: Kajian Tasawuf Amali. Jakarta: Kalam Mulia. 
Mahmud. 2011. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka Setia.
Mujiono, Dimyati. 2009. Belajar dan pembelajaran. Jakarta:Rineka Cipta.
Mustaqim, Abdul. 2007. Akhlaq tasawuf jalan menuju spiritual. Yogyakarta: Kreasi Wacana.
Mustari, Mohammad. 2014.  Nilai karakter refleksi untuk pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Mustofa .1997. Tasawuf. Bandung:Pustaka Setia.
Nasir, Haidar. 2013.  Pendidikan karakter berbasis agama dan budaya. Jogjakarta:Multi Presindo.
Nata, Abuddin. 2015.  Akhlak Tasawuf dan Karakter Mulia. Jakarta : Rajawali Pers.
Panduan 23 shalat sunnah diseetai doa dan dzikir. Jakarta:Ciptawidya Swara.
Prawira, Purwa Atmaja. 2012.  psikologi pendidikan dalam perspektif baru. Jogjakarta:Ar-Ru Media.
Restian, Arina. 2015. Psikologi pendidikan teori dan aplikasi. Malang:UMM Press.
Rif’an, Ahmad Rifa’i. 2015. Man Shabara Zhafira. Jakarta:Media Komputindo.
Rusn, Abidin Ibnu. 2009.  Pemikiran Al-Ghazali tentang pendidikan. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Samani, Muchlas. 2013.  Pendidikan karakter. Bandung:PT. Remaja Rosdakarya.
Sanjaya,Wina. 2013.  Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta:Kecana Media Group. 
Satori, Djam’an dan Aan Komariah.2013. Metode Penelitian Kualitatif. Bandung: Alfabeta.
Selamat, Kasmuri. 2012.  Akhlaq Tasawuf upaya meraih kehalusan budi dan kedekatan ilahi. Jakarta:Kalam Mulia.
Sholikin, Muhammad. 2012.  Panduan shalat lengkap dan praktis. Jakarta:Erlangga.
Sugiyono. 2014.  Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.
Suryabrata, Sumadi. 2008. Metode Penelitian. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Suryo, Moh dan  Jumhur.1998. Bimbingan dan penyuluhan di sekolah. Bandung:CV. Ilmu.
Tafsir, Ahmad. 1992. Ilmu pendidikan dalam perspektif Islam. Bandung:remaja Rosda Karya.
Thabbarah ,Afif Abdul Fattah. 2001.  Ruh shalat dimensi fikih dan kejiwaan. Jakarta: Pustaka Al-Kautsar.
Tim Penyusun. 2012. Undang-undang RI No 20 tahun 2003 tentang SISDIKNAS. Bandung:Citra Umbara.
Tim penyusun. 2017. Pedoman penulisan karya ilmiyah. Jember:IAIN Jember Press.
Wiyoto,Anton Adi. 2001.  Melatih anak bertanggung jawab. Jakarta: Mitra Utama.
Zayadi. 2011. Desain pendidikan karakter. Jakarta: Kencana prenada Media Group.



MATRIK PENELITIAN
JUDUL VARIABEL SUB VARIABEL INDIKATOR SUMBER DATA METODE PENELITIAN FOKUS PENELITIAN
Pembinaan Akhak siswa melalui ‘Bengkel Iman’ Sebagai Upaya Pembentukan karakter Religius di SMA N 1 Besuki Situbondo Tahun Pelajaran 201/2017
a. Pembinaan Akhak siswa melalui ‘Bengkel Iman’





b. Pembentukan Karakter Religius 1. Hypnoterapi

2. Shalat Berjamaah


3. Pemberian Motivasi


1. Nilai Ilahiyah (Hablum min- Allah)






2. Nilai Insaniyah (Hablum min An-Nas)
a) Teknik Induksi
b) Teknik Deepening

a) Sholat sunnah berjamaah
b) Sholat wajib berjamaah

a) Motivasi instrinsik
b) Motivasi ekstrinsik

a) Bertakwa kepada Allah
b) Bersyukur kepada Allah
c) Bertawakal kepada Allah 



a) Sikap peduli terhadap sesame
b) Tanggung jawab
c) Menyayangi yang lebih muda dan menghormati yang lebih tua 1. Informan :
a. Kepala Sekolah
b. Waka kesiswaan
c. Guru PAI
d. Guru BK
e. Siswa

2. Dokumenter

3. Kepustakaan a. Penelitian dengan pendekataan kualtitatif
b. Tehnik penentuan sampel dengan cara purposif sampling dan Snawball sampling
c. Metode pengumpulan data:
1. Interview
2. Observasi
3. Dokumentasi
d. Analisa data menggunakan :deskriptif kualitatif
e. Keabsahan data: Triangulasi sumber, dan Triangulasi teknik, 1. Bagaimana pelaksanaan pembinaan akhlak melalui ‘bengkel iman’ sebagai upaya pembentukan siswa religius nilai ilahiyah (hablum minallah) di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo  tahun ajaran 2017/2018?
2. Bagaimana pelaksanaan pembinaan akhlak melalui ‘bengkel iman’ sebagai upaya pembentukan siswa religius nilai insaniyah (hablum minannas) di SMA 1 Negeri Besuki Situbondo  tahun ajaran 2017/2018?



0 Response to "PROPOSAL PENELITIAN PEMBINAAN AKHLAK "

Post a Comment

Disclaimer: Gambar ataupun video yang ada di situs ini terkadang berasal dari berbagai sumber media lain. Hak Cipta sepenuhnya dipegang oleh sumber tersebut.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel